BeritaDaerahNasional

HIKMAHBUDHI Sayangkan Vonis yang Dijatuhkan pada Meiliana

Oleh: Rendy Arifin

Para pelaku pembakaran vihara dan kelenteng di Tanjung Balai, Sumatera Utara pada bulan Juli 2016 lalu akhirnya divonis bersalah. Namun vonis tersebut diprotes banyak kalangan lantaran dinilai tidak memenuhi rasa keadilan jika dibandingkan dengan vonis dari orang yang mengeluhkan suara volume speaker di masjid. Pada 21 Agustus 2018, Pengadilan Negeri (PN) Medan menjatuhkan vonis 18 bulan penjara kepada Meiliana karena dinilai terbukti bersalah melakukan perbuatan penistaan agama yang diatur dalam Pasal 156A KUHPidana. Sedangkan bagi 8 orang pembakar vihara dan kelenteng divonis 1 sampai 2 bulan saja. Tentu vonis yang dijatuhkan pada Meiliana ini sangat disayangkan oleh berbagai pihak. PBNU, Muhammadiyah, Menteri Agama RI, bahkan Wakil Presiden RI pun ikut berkomentar atas vonis ini.

Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga merupakan Ketua Dewan Masjid Indonesia menilai jika ada yang memprotes terkait suara masjid tak seharusnya dipidana. Namun apa boleh dikata, vonis sudah dijatuhkan dan tidak ada yang bisa mengintervensi keputusan hakim, kecuali adanya upaya banding.

Pasang Iklan

Berdasarkan keterangan pengacaranya, tidak ada satu bukti pun yang mengarah pada perbuatan penistaan agama yang dilakukan oleh Meiliana. Bahkan ahli agama yang dihadirkan menjelaskan bahwa respon terhadap adzan (seruan untuk sembahyang bagi umat Islam) tidak dapat dianggap sebagai respon terhadap ajaran agama.

Ketua Umum HIKMAHBUDHI, Sugiartana turut prihatin dan menyayangkan atas vonis yang dijatuhkan pada Meiliana ini. Ia menilai vonis yang dijatuhkan penuh dengan kejanggalan dan tidak sesuai dengan bukti serta fakta hukum yang ada dalam persidangan.

“Aparat hukum yang menangani kasus Ibu Meiliana harus taat pada aturan hukum yang berkeadilan dan tidak terpengaruh pada tekanan massa.”, tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa HIKMAHBUDHI berkomitmen mengawal kasus ini dan berupaya menjaga konsensus pendiri bangsa bahwa Pancasila, NKRI, serta keberagaman yang ada harus dibingkai dengan persatuan dan kesatuan bangsa.

“Biarkan kasus ini berjalan sesuai hukum. Jangan ada tindakan-tindakan yang dapat memperkeruh suasana. Mari bersama kita sampaikan doa dan motivasi kepada Ibu Meiliana beserta keluarga agar proses banding berjalan dengan adil dan lancar.”, tutupnya.

Komentar via Facebook

Close