ArtikelOpini

Harmoni dalam Tri Suci Waisak

Oleh: Dewi Susanti

Selasa lalu (29/05), umat Buddha di Indonesia dan dunia telah merayakan Tri Suci Waisak. Tri Suci Waisak merupakan hari raya umat Buddha yang memperingati tiga peristiwa, yaitu lahirnya Pangeran Siddharta, Pertapa Siddharta menjadi Buddha, dan Buddha mencapai Maha Parinibbana (wafat). Ketiga peristiwa ini terjadi di bulan yang sama. Maka Tri Suci Waisak ini diperingati sebagai salah satu hari raya umat Buddha.

Tri Suci Waisak dirayakan dengan cara yang berbeda-beda. Hal ini berdasarkan latar belakang daerah umat Buddha tersebut berada. Ada yang hanya merayakannya di vihara; ada yang sampai pawai keliling kota; ada yang merayakannya di candi-candi peninggalan kerajaan nusantara; ada yang merayakan di vihara kemudian dilanjutkan merayakan di rumah; dan masih banyak lagi tradisi untuk merayakan Hari Waisak di dunia.

Pasang Iklan

Umat Buddha di Indonesia sendiri merayakan Waisak dengan berbagai tradisi. Di kota-kota besar, umat Buddha merayakan Waisak di berbagai vihara. Mereka menyediakan bunga, buah, pelita, dan wewangian untuk menghias altar puja. Begitu juga umat Buddha di daerah-daerah pedesaan. Berbagai persembahan, tarian, dan nyanyian disiapkan untuk menambah kemeriahan Waisak. Kemeriahan Waisak seperti ini bisa berlangsung hingga satu bulan ke depan. Bahkan di kota-kota besar, perayaan Waisak mulai memasuki mall-mall dan mengundang pejabat-pejabat pemerintah setempat.

Dibalik kemeriahan Waisak yang begitu membahagiakan, terdapat petugas berseragam dengan membawa senjata berdiri di depan pintu masuk setiap vihara. Mereka adalah polisi yang berjaga untuk mengamankan perayaan Waisak. Seperti kita tahu, belakangan ini terjadi begitu banyak tindakan-tindakan pengeboman yang dilakukan oleh terorisme yang entah untuk apa sebenarnya mereka melakukan tindakan-tindakan tersebut.

Aksi-aksi tersebut di atas sontak membuat umat beragama takut dalam melakukan ibadah, tidak terkecuali umat Buddha. Wajar ketakutan itu muncul karena memang sebagian besar lokasi yang di bom adalah tempat-tempat ibadah. Bangsa ini tengah menghadapi krisis solidaritas dan toleransi. Ujaran kebencian dan dogma-dogma yang salah begitu cepat di sebar dan masuk dalam pikiran orang-orang yang kurang bijaksana dalam menerima informasi.

Di tengah kerusuhan yang terjadi belakangan ini, saya kembali teringat dengan materi PKn yang pernah saya dapatkan ketika duduk di bangku SMA. Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, materi tersebut saya terima dari seorang guru yang sangat alim, santun dan disiplin. Ia mengenakan model hijab yang lebar dan merupakan muslimah yang taat pada agama. Sementara saya adalah satu-satunya murid yang beragama Buddha di sekolah tersebut. Walau demikian, saya diperlakukan sama, tidak ada diskriminasi yang membedakan saya dengan murid yang lainnya.

Materi PKn yang ia sampaikan saat itu adalah mengenai “Tri Kerukunan Umat Beragama”. Materi tersebut masuk dalam kurikulum ketika saya masih SMA. Tentu saja sebagai siswa yang baik dan ingin mendapat nilai bagus, saya secara berulang-ulang menghafalkan isinya. Tri Kerukunan Umat Beragama terdiri dari:

  1. Kerukunan inter umat beragama,
  2. Kerukunan antar umat beragama,
  3. Kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah.

Nilai-nilai tersebut di atas pada saat ini entah masih menjadi bahan materi pembelajaran atau tidak di sekolah. Sangat disayangkan jika poin-poin di atas tidak diajarkan lagi.

Selain di sekolah, tiga poin penting mengenai Tri Kerukunan Umat Beragama di atas juga pernah saya dengar dalam sebuah ceramah Dhamma seorang samanera di vihara. Sontak pikiran saya langsung teringat pada kenangan pelaran PKn di sekolah yang disampaikan oleh guru saya. Bayangkan jika semakin banyak tokoh-tokoh agama menggaungkan pesan kerukunan ini, pasti perdamaian akan mudah dijaga. Peran tokoh agama dan pemerintah sangat penting dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Bagi saya, selain menjadi hari raya umat Buddha, Waisak juga menjadi ajang untuk menjalin silahturahmi dengan sesama. Hal ini saya lihat terjadi di kalangan umat Buddha di Lampung. Waisak benar-benar menjadi hari raya bagi mereka. Tidak hanya merayakan Waisak di vihara, para umat Buddha di Lampung juga merayakannya di rumah mereka masing-masing. Mereka menyiapkan banyak makanan dan minuman sebagai sajian bagi tamu yang datang. Proses dalam pembuatan makanan untuk Waisak ini bisa dilakukan sepuluh hari sebelum Hari Waisak tiba. Antusias mereka sangat luar biasa dalam menyambut Waisak.

Saat hari Waisak tiba, pada pagi hari mereka akan pergi ke vihara, melaksanakan puja bakti Waisak, pradaksina, dan ramah tamah dengan umat di vihara. Setelah selesai, mereka kembali ke rumah dan menyambut kedatangan keluarga dan kerabat yang berkunjung ke rumah mereka. Meriah sekali, para kerabat dan handai tolan dari yang kanak-kanak hingga orang tua, semua mengunjungi kediaman umat Buddha saat Waisak. Tradisi seperti ini sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. Mereka menyadari adanya perbedaan, baik dari segi agama maupun suku bangsa. Namun mereka tidak melihat perbedaan itu sebagai penghalang, sebagai pemecah yang menjauhkan satu sama lain.

Waisak tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan di mana saudara kita yang beragama Islam menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Meski demikian, kerukunan antar umat beragama tetap terjaga. Di kediaman paman saya di Lampung, saudaranya yang beragama Islam tetap datang dan membantu keluarga paman saya membuat makanan meskipun mereka juga melaksanakan ibadah puasa. Tidak hanya itu, para tetangga dan kerabat yang beragama Islam, Kristen, Hindu dan Khatolik pun turut datang berkunjung dan bersilahturahmi ke keluarga paman saya dan juga umat Buddha lainnya. Mereka saling berjabat tangan dan mengucap selamat Waisak.

Kerukunan antar umat beragama di sana sangat jauh dari kata “teror dan bom.” Umat Buddha di sana tetap menjalankan puja bakti Waisak tanpa mendapat pengawalan dari polisi. Mungkin Karena mereka merasa aman bahwa masyarakat di tempat mereka tidak saling rusuh atau mengganggu proses peribadatan umat beragama lainnya. Begitu juga dengan hari raya umat beragama lain, toleransi dan kerukunan tetap dijaga. Umat yang beragama Buddha bergantian mengunjungi rumah mereka yang beragama Islam, Kristen, Khatolik dan Hindu. Tradisi silahturahmi pada momen hari raya ini terjaga hingga sekarang.

Apa yang dilakukan oleh mereka sangat patut untuk di contoh. Mereka mungkin bukan orang-orang yang berpendidikan tinggi, bukan juga masyarakat dengan tingkat ekonomi yang mapan. Namun mereka bisa mempraktikan apa yang disebut “Bhineka Tunggal Ika”, warisan luhur bangsa Indonesia yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti itulah harmoni Waisak yang layaknya kita kumandangkan, dengan berbagi cinta kasih dan kepedulian pada sesama, yang jauh dari kebencian, permusuhan dan sifat untuk memecah-belah. Mari kita tularkan rasa solidaritas dan kerukunan ini kepada semua orang yang kita jumpai. Kita bisa memulainya dengan memberikan senyuman dan bantuan-bantuan kecil kepada sesama. Hingga sampai saatnya nanti, masyarakat Indonesia tidak lagi khawatir dan takut untuk melaksanakan doa di tempat-tempat ibadah; tidak lagi ada ancaman dan teror di pusat-pusat perbelanjaan; dan kita semua kembali bersatu menciptakan kerukunan dan kesatuan di Indonesia.

Komentar via Facebook

Close