NasionalOpini

Generasi Emas 2019, Dipertemukan karena Sebuah Jodoh

Oleh: Nicolas Huang

“Jogja, di sinilah tempat kami bertemu.”

Jujur saja, ini adalah pertama kalinya saya datang ke Jogja, juga pertama kali saya mengikuti pembinaan yang diikuti oleh perwakilan dari seluruh mahasiswa di Indonesia. Yang paling jujur lagi, benar-benar aneh rasanya. Ya, saya adalah orang yang aneh, tidak pandai bergaul dengan orang asing, pendiam, dan lainnya. Tapi, semua itu berubah saat saya mengikuti kegiatan ini. Keikutsertaan saya dalam acara ini adalah sebuah kebetulan yang sangat saya syukuri. Bayangkan saja, kalau saat pengumuman diturunkan dan saya yang sedang tidak memegang HP tidak menyuarakan keinginan saya untuk mengikuti acara ini, tentunya bukan saya yang akan berangkat ke Jogja.

Pasang Iklan

Awalnya, tujuan saya mengikuti acara ini adalah untuk melarikan diri dari segala kesuntukan dan kepenatan keseharian yang saya alami. Siapa sangka kalau rupanya kamar tidur akan diacak dan saya akan tidur bersama orangasing, bahkan yang belum pernah saya kenal dan temui. Oh, tidak! Sepertinya keputusan saya untuk mengikuti pembinaan ini salah.

No! Saya katakan dengan lantang. Keputusan saya untuk mengikuti pembinaan ini tidak salah dan sangat tepat sekali. Tak ada yang menyangka kalau rasa kekeluargaan dapat terjalin hanya dalam waktu 3 hari. Tak ada yang menyangka kalau sebuah hubungan akan terjalin manis dan erat, yang dibuktikan dengan saling men-support kawan-kawan yang tertinggal pesawat.

Saya akui, dalam tatap muka, memang saya kurang. Mungkin saya dapat dikatakan sebagai seorang introvert yang cenderung minder dengan yang namanya kawan baru. Tapi,  rasa itu hilang dan tergantikan oleh sebuah rasa penyesalan, “Kenapa gue gak ngobrol-ngobrol sama mereka sih pas kemarin ketemu? Sekarang cuma di HP doang, mukanya yang mana juga gue lupa,” Tapi, dengan tekad yang kuat, kami akan menjaga hubungan persahabatan kami. Stay connected agar tidak lost.

Secara mengejutkan juga, saya dijadikan sebagai ketua kelompok kecil di bus 1, sebuah pengalaman yang luar biasa dimana saya menemukan rasa kekeluargaan dan bahu-membahu yang cukup erat. Mereka membantu saya yang agak gaptek ini membentuk grup WA, mengajarkan saya trik, dan cara cepat mengumpulkan anggota kelompok. Mereka dengan cepat dan lincahnya membantu membawa makanan ke bus. Ah, saya terharu dengan pemandangan ini.

Kami menjadi rombongan paling belakang saat berjalan menuju ke Borobudur. Tak apa paling belakang, namun semangat kita-lah yang paling membara. Sepanjang jalan, kami menyanyikan lagu-lagu Buddhis. Setelah bosan, mulailah keluarga besar ini mengaco, hehehe. “Sari roti, roti sari roti!” atau “Minum yakult tiap hari!” atau nyanyian lain dari masing-masing produk dan merk yang lewat di depan kami. Ya, dalam situasi ini, rasa kekeluargaan terasa semakin tebal jadinya.

Begitu sampai di Borobudur, kami beristirahat di dalam tenda luas yang ber-AC banyak. Setelah kedinginan, kami keluar untuk mencari kehangatan. Ada keinginan untuk naik mengunjungi candi agung itu, tapi karena teman sekampus saya tidak ada yang naik, keinginan ini terpaksa diurungkan.

Saat langit sudah mulai gelap, kami menuju ke tenda sebelah untuk berdiskusi kecil dengan keluarga buddhis universitas sebelah tentang kepulangan kami pada hari esok sekalian rencananya akan mengambil foto bersama dengan delapan orang kontingen dari Bali. Namun, pengambilan foto tidak berhasil, begitu pula dengan diskusiyang tak berujung kepastian. Akhirnya, karena bosan, saya yang aneh ini mendekat ke seseorang yang awalnya saya kira anggota kelompok kecil saya. SKSD sambil pura-pura mengingat-ingat namanya.

“Eh, siapa nama lu? Gua lupa,”

Kemudian, kami berjabat tangan, saling mengucap nama, dan bergantian sampai kedua orang temannya melakukan hal yang sama pada saya. Sungguh, wajah mereka ini tidak asing. Tapi, entah mengapa, tak ada sekelebat pun ingatan tentang mereka hingga akhirnya mereka menyebutkan daerah asalnya.

“Bandung.”

Dahi saya terlipat. Saya masih berpikir keras, Siapa sih mereka? Kayak pernah ketemu sebelumnya. Tapi dimana? Kapan?

“Kalian Medan lang ya?”

“Bukan,”

“Eh, maksud gua kalian Hokkian lang ya?”

“Iya, gua Hokkian lang tapi bukan Medan lang,

Tak disangka, rupanya temannya yang lagi satu jalan pikirnya sama sepertiku. “Kalian udah pernah ketemu ya sebelum ini? Kok kayaknya akrab banget,”

“Ah, gak kok, belum pernah,” Ujar orangyang ku ajak kenalan pertama kali.

Dalam hati aku ber-oh ria. Oh, salah orang toh! Sambil terbahak keras dalam hati.

“Kirain teman se-bus,”

“Bukan,”

Lalu, ketiga teman saya ikut nimbrung ke percakapan ini. Kami berkenalan dan akhirnya saya menemukan jawabannya!

“Lah, kalian ini yang kemarin kenalan pas check-in itu bukan ya?!” Seruku, seolah memenangkan sebuah lotre emas yang nilainya miliaran rupiah.

“Iya, kayaknya,” Kemudian kami semua terbahak. Ketahuan kalau perkenalan tanpa percakapan adalah sia-sia. Saat check-in kemarin, memang tidak ada percakapan di antara kami, hanya penyebutan nama, dan… sudah, begitu saja. Lain dengan yang ini, pertemuan dengan percakapan, yang tentunya membekas di antara kami. Belum lagi setelah itu kami didatangi oleh si kembar dari Palu, yang cocok dan asik dengan kisah-kisahnya berkeliling Indonesia.

Acara Waisak malam itu pun dimulai. Tariannya banyak, indah, dan memukau. Bulan purnama dan lampion yang menghiasi dan memenuhi langit menambah semaraknya acara ini, hingga mata ini tak kuat lagi untuk terbuka. Kami turun dan merebahkan diri dalam tenda dengan posisi seperti sardin, sekedar menutup mata untuk mengisi energi menyambut detik-detik waisak. Hingga menjelang detik-detik, kami kembali naik ke zona 1 Candi Borobudur. Mata masih sangat berat, dan jujur saja, setelah duduk, mata saya langsung terpejam sempurna hingga Pradaksina, baru kesadaran ini kembali, hehehe.

Mengelilingi candi yang agung dan besar itu awalnya dengan kawan-kawan dari Bali, lengkap berdelapan. Tapi, entah bagaimana ceritanya, saya hilang di tengah kerumunan orang-orang. Tak lagi melihat orang yang saya kenal. Dan saat itu, saya tidak peduli. Kaki untuk berjalan, hati hanya berfokus pada candi ini. Untungnya, di tengah kerumunan ini saya melihat teman bus saya yang juga berjalan sendiri, yang sesekali asik dengan kameranya mengabadikan momen indah yang terpampang nyata di hadapannya. Tapi, mulut ini tidak memanggilnya. Ya, menjaga ketenangan dan konsentrasi Pradaksina, hehehe.

Baterai HP saat itu sekarat dan keberadaan teman-teman saya belum juga diketahui. Entahlah, mereka hilang kemana. Yang jelas, saya tidak sendiri. Bersama teman satu bus yang juga sendiri, kami mencari tempat di tengah-tengah agar dapat melihat teks waisak di proyektor. Tiba-tiba HP berbunyi, katanya semua sudah menunggu di tenda dan bus akan segera tiba. Saya beritahu ‘teman baru’ ini dan kemudian kami turun menuju tenda. Tak berapa lama, kami diarahkan ke pintu keluar dan segera menaiki bus. Tidur di bus dengan rasa lelah yang teramat sangat. Sebuah rasa lelah yang sangat menyenangkan.

Kami sampai di hotel dengan wajah yang kusam dan letih. Melahap sarapan sebelum akhirnya mandi dan tertidur dengan pulas hingga hampir melewatkan jam makan siang.

Yang masih terngiang dalam lautan ingatan ini selanjutnya adalah Hamry Gusman, sosok motivator yang menurut saya memiliki bakat yang luar biasa. Ia menggugah narapidana hingga menangis tersedu-sedu. “Kau telah melemparkan kayu bakar pada api semangatku,” Begitu kalau tidak salah quotes darinya. Dan ya, ialah yang memviralkan, “Siapa kita? Saya Indonesia, Garda NKRI!”

Dalam sesi selanjutnya, yang merupakan sesi terakhir saya, kami membentuk kelompok yang terdiri dari 25 orang yang saling berbaur. Membentuk yel-yel dan mempersiapkan materi presentasi sesuai dengan topik yang didapat. Ya, sebagai anggota kelompok, sepertinya kelompok saya, kelompok NaGa, NAsional beraGAma yang yel-yelnya paling heboh, hehehe. Tapi tak apa, kalah-menang, urusan belakangan. Yang penting, saya happy, dia happy, semua happy, beres, hehehe.

Setelah menyantap makan malam, kami para kontingen dari Bali pamit pulang mendahului yang lain. Ada UAS yang harus ditempuh oleh kami yang berkuliah di 2 universitas yang berbeda. Ya, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Walau tak dapat langsung mengikuti acara penutupan, tetapi kami masih dapat melihat potongan-potongan ceritanya dalam media sosial Instagram yang seketika penuh dengan situasi acara penutupan. Dengan almamater yang beraneka ragam memenuhi ballroom The Rich Jogja ini. Dengan senang dan sedih yang tercampur menjadi satu, mereka naik ke atas panggung, menandatangani sebuah deklarasi mahasiswa buddhis seluruh Indonesia.

Huh, dengan berat hati saya menatap layar kaca ponsel saya. Saat jemari ini menggeser ke laman selanjutnya, masih sama situasi yang nampak, namun dari sudut pandang yang berbeda. Ah, sayang banget gua pulang duluan!!!

Dan demikianlah tulisan ini dibuat. Tulisan ini hanyalah sebuah tulisan amatir dari saya yang belum pernah menulis. Termotivasi untuk menulis agar kesan dan pengalaman ini tidak berlalu begitu saja, sama seperti kemesraan yang kata Iwan Fals janganlah cepat berlalu. Pertemuan 3 hari ini menyenangkan, akan selalu terjaga sehingga tidak hilang dari lubuk hati. Pertemuan ini menyenangkan, bertemu dengan orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia. Pertemuan ini menyenangkan, tanpa membedakan suku, budaya, warna kulit, kami bisa bersama, bahu-membahu menjadi sebuah keluarga besar yang saling menyayangi dan melengkapi. Pertemuan ini menyenangkan, “GENERASI EMAS 2019! SEMANGAT, JAYA, SANTUN!”. Pertemuan ini menyenangkan, “SALAM DUABE! BERAGAMA, BERINDONESIA!” Pertemuan ini sangat menyenangkan, tak sabar menanti kapan datangnya suatu hari yang membawa kita kembali berkumpul bersama dalam satu forum. Suatu saat, semoga. -ND.

 

Penulis: Nicolas Huang
(Salah satu peserta GEMAS 2019)

 

 

 

 

 

Komentar via Facebook

Close