BeritaDaerah

Festival Al A’zhom, Bingkai Kebhinnekaan yang Patut Dicontoh

Festival Al A’zhom yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kota Tangerang memasuki perayaan tahun ke-8, bertepatan pada tahun 1441 Hijriah dengan tema Hijrah is Beautiful. Festival Al A’zhom kali ini diperingati dengan cara yang lebih menarik di sepanjang pagelaran acaranya. Pada hari Rabu, 11 September 2019,  dimasukkan salah satu acara dialog kebangsaan lintas agama yang akan memperlihatkan toleransi dalam wujud nyata dengan dibalut pertunjukkan seni budaya di setiap sesinya.

Bertempat di Aula MUI Kota Tangerang, acara dibuka dengan pertunjukan Drumband dan Tari Kolosal dari PKBM Alfa Omega, atraksi Palang Pintu oleh BAMUS MASKOT Tangerang, Musikalisasi Puisi dari STISNU dan Tari Kreasi Gending Sriwijaya oleh SD Dharma Putra.

Pasang Iklan

Dalam sambutannya, koordinator acara Hendra, SE, M.M. (Penasehat PC HIKMAHBUDHI Kota Tangerang) menyampaikan betapa pentingnya momen hari ini untuk dibagikan di semua media sosial yang kita punya, karena ini adalah cara untuk melawan semua berita hoax yang ada, bahwa masih ada kerukunan dan toleransi di sini hari ini.

Diskusi Festival Al A'zhom

Hermann Josis Mokalu, M.M. yang akrab dengan nama panggung Yosi Project Pop dan Yohana Elizabeth Hardjadinata, MBA, M.Pd yang biasa kita sapa dengan kak Yohana dari komunitas NAKAL (Nasionalis Radikal) tampil sebagai moderator acara. Mereka mencairkan suasana terlebih dahulu dengan saling menukar bangku para peserta sebagai penanda toleransi sudah ada di tempat ini dengan berbaurnya semua antara satu dengan yang lain.

Dr. H. Muhammad Qustulani, S.S., MA.Hum. (Wakabid STISNU Tangerang) menjelaskan bahwa hijrah tidak seharusnya dimaknai sempit yakni sebatas peralihan dari satu tempat ke tempat yang lain, seperti dari Mekkah menuju Madinah. Hijrah harus dimaknai sebagai peralihan dari peradaban kegelapan menuju peradaban yang terang benderang, peralihan dari tradisi kebodohan menuju tradisi kecerdasan, dari pemikiran sempit menuju luas. Makna hijrah sesungguhnya membangun peradaban moral yang mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan, dari tidak memanusiakan manusia menuju memanusiakan manusia. Wujudnya adalah mengedepankan nilai-nilai toleransi dan menghormati perbedaan dalam keberagaman.

Upaya peralihan dari kebodohan menuju kecerdasan harus terus menerus dilakukan, konsistensi menjadi kunci agar perpindahan dari gelap menjadi terang akan menjadi sebuah kebudayaan yang mengembangkan rasa kemanusiaan dalam bertoleransi, pungkas Romo Clemens Tribawa Saksana, OSC (Pastor Gereja St. Agustinus).

Al A'zhom

Sesungguhnya, kerukunan ini sebenarnya sudah ada dan berjalan mantap, namun kenapa masih dipermasalahkan terus? Pernahkah kita bertanya mengapa Tuhan menciptakan semua agama di dunia ini? Itu semua hanyalah ujian dari sang pencipta untuk melihat kualitas kita sebagai ciptaan-Nya. Setiap agama pasti mengajarkan kasih, semuanya atas dasar cinta kasih agar kita bisa hidup berdampingan satu sama lain, sambung WS. Rudy Gunawijaya (Tokoh Konghucu Banten)

Pendeta Doni Susanto, S.Th. (Ketua DPA GBI Banten) menambahkan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan itu berbeda-beda, nama bisa sama wajah bisa mirip namun kepribadian setiap individu pastilah berbeda. Oleh karena itu, dibutuhkan toleransi untuk menghargai setiap perbedaan, bagaimana cara merajut toleransi harus ditarik dari kacamata personal kemudian ke universal. Dimulai dari kesadaran diri sendiri dahulu bahwa benar adanya kita memiliki perbedaan baik secara agama, budaya, adat, dan yang lainnya. Kemudian, mulai menunjukkan keteladanan dalam perbuatan pribadi kita. Selanjutnya, toleransi dapat dibangun ke tahap berikut melalui lingkungan rumah tangga hingga masyarakat luas, khususnya kami para pemuka agama yang selalu mencontohkan dan mengarahkan umat untuk saling hidup rukun dan bertoleransi.

Salah satu bentuk toleransi adalah memberikan ruang dan kesempatan bagi siapa saja yang akan melaksanakan ibadah, misalkan saatnya adzan dikumandangkan itu merupakan panggilan bagi yang lain untuk turut beribadah dan ingat kepada Tuhan, bagai pengingat bagi saya juga untuk segera bersembahyang yang Hindu miliki di tiga waktu dalam sehari. Ketika kita ingin menunjukkan kerukunan, marilah kita bersama-sama saling mendengar dan berdialog, apa yang terjadi di sana, apa yang terjadi di sini. Itulah pentingnya dialog untuk menemukan keserasian dan meninggalkan rasa saling curiga, lanjut P. Nyoman Subiksa (Wakil Ketua PHDI Kota Tangerang).

Al A'zhom Dalam Bingkai Kebhinekaan

Indonesia sudah menerapkan kebhinekaan sejak zaman kerajaan-kerajaan dahulu dimana kemajemukannya sudah dapat terlihat dari kebudayaan yang berkembang. Buddhisme membangun toleransi melalui pengembangan cinta kasih dan kasih sayang kepada semua mahkluk tanpa kecuali bahkan kepada mereka yang menghujat kita. Hal yang pertama harus kita lihat adalah mengembangkan kebijaksanaan melalui kebajikan kita untuk menunjukkan kerukunan sejati. Hijrah dalam Buddhisme harus mampu melepaskan segala bentuk-bentuk kejahatan melewati kebencian, ketamakan, dan kebodohan yang kita miliki, tutup YM. Bhikkhu Gunaseno, S.Pd. (Wakil Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Provinsi Papua).

Sebagai akhir moderasi dialog, Yosi menyimpulkan bahwa toleransi itu bukanlah barang baru, kita mungkin hanya lupa namun kita percaya betul bahwa ada benih-benih pemikiran tentang toleransi yang akan dibawa pulang oleh para peserta hari ini. Kegiatan ini terbuka untuk umum dengan mengundang peserta dari berbagai sekolah mulai dari jenjang SMP hingga SMA untuk tetap menebarkan bibit-bibit toleransi yang ada.

Foto Bersama Festival Al A'zhom

Penutupan acara diakhiri dengan Tarian Manggarai (Flores) dari Pemuda Katolik Tangerang, tarian Sekar Jagat oleh Perhimpunan Pemuda Pemudi Hindu Tangerang, dan vokal grup oleh SMA Setia Bhakti.

Komentar via Facebook

Tags
Close