ArtikelOpini

Dunia yang Kita Mau: Antara Toleransi dan Diri Sendiri

Oleh: Clesia Margaretha

Suatu ketika saat sedang melihat banyaknya acara-acara Waisak yang tersebar di media sosial, saya mendengar lagu lamanya Elton John yang berjudul Imagine, yang intinya meminta kita membayangkan suatu kondisi di mana orang tidak saling bertikai, tidak ada permusuhan, keserakahan dan saling menjatuhkan satu sama lain, dan semuanya damai serta hidup dalam satu kesatuan.

Hmmm, lagu ini membuat saya jadi berpikir dan mulai membayangkan kondisi seperti yang diidamkan dalam lagu. Saya mencoba berandai-andai ada di dunia yang penuh kedamaian di mana orang-orang penuh kesabaran, tidak ada salah paham, bersumbu panjang dalam berpikir, berucap dan bertindak, sehingga tidak saling menyakiti. Dan rasanya menyenangkan sekali!

Pasang Iklan

Lalu, saya merenung tentang apa kiranya yang paling penting membuat suatu kondisi menjadi damai. Beberapa waktu saya berpikir, akhirnya saya tiba pada kesimpulan bahwa yang terutama adalah rasa toleransi satu sama lain. Mengapa? Karena menurut saya dengan toleransi atau bahasa kerennya, tepa salira (dapat merasakan atau menjaga perasaan, beban pikiran orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain, sumber: Wikipedia), toleransi memposisikan kita sebagai orang lain sehingga kita dapat merasakan mengapa ia bereaksi tidak seperti yang kita harapkan. Dan dengan demikian mudah-mudahan kita dapat memahami serta memakluminya.

Tenggang rasa, sebagai kata lain dari toleransi membuat kita tidak hanya mementingkan diri sendiri yang merupakan asal dari banyak masalah yang timbul. Misal ketika kita menyetir dan kita berpikir bahwa urusan kita lebih penting dari orang lain, maka pada saat itu kita akan menyalip kendaraan di depan kita dan tidak merasa bersalah. Contoh kecil lain, yaitu ketika ada pembagian makanan dan kita mengambil porsi lebih banyak dari yang lainnya karena merasa bahwa kita sudah bekerja lebih keras serta pantas mendapatkan itu semua. Padahal, kita tidak berpikir bahwa orang lain juga banyak yang bekerja sama kerasnya dengan kita tapi kita tidak melihatnya, karena pikiran bergerak lebih cepat daripada mata dan bekerja seperti kilat dengan kecepatan beranak pinak luar biasa yang digawangi oleh sang aku, keegoisan!

Tentu saja lebih mudah berkata daripada bertindak. Juga lebih mudah berharap daripada menerima. Dan, hal ini sudah saya alami sendiri. Di satu sisi, saya mengharapkan dunia yang damai dengan orang-orang yang penuh toleransi, sedangkan di sisi lain, saya sendiri kadang lupa untuk memulainya. Jadi, saat ini saya tuliskan harapan saya agar lebih mudah mengingatnya. Karena seperti yang dikatakan bahwa apa pun yang diucapkan, hasilnya akan lebih besar daripada yang dipikirkan, dan apa pun yang dituliskan hasilnya akan lebih dari yang diucapkan. Dengan menulis Dunia yang Penuh Kedamaian, saya berharap saya lebih waspada untuk memulainya dari diri sendiri.

Dan hal pertama yang bisa langsung dipraktikkan yaitu ketika seseorang marah kepada saya, saya mencoba menempatkan diri dalam posisinya, dan merenungkan mungkin ia sedang ada dalam situasi yang tidak enak, sehingga ia marah dan karena saat itu ada saya maka saya yang terkena dampaknya. Ketika melakukan hal ini, setidaknya saya tidak melempar lagi bola api yang ia muntahkan kepada saya ke tangan orang lain. Cukup sudah! Efek domino harus terhenti!

Cara lain, yaitu dengan mengingat kisah tentang seorang anak nakal di kereta yang membuat semua orang gemas akan kenakalannya, tapi kemudian jatuh iba setelah mengetahui bahwa ibunya baru saja meninggal sehingga ia bertingkah demikian. Mungkin itu bisa jadi sepotong cerita bagi kita untuk memulai lembaran baru dalam bertoleransi. Kita mungkin tidak harus sedramatis itu dalam berpikir, bahwa orang yang menjahati kita baru saja ditinggal mati oleh orang tercintanya atau hal ekstrim lainnya, tapi cukup mengerti bahwa kesulitan sekecil apa pun tetap bisa memancing reaksi berlebih pada seseorang, dan kita salah satunya. Dengan mencoba merenungkan dan memahami posisinya, kita sedikit banyak juga memberi ruang pada diri sendiri untuk tidak langsung mengambil sikap membalas dengan tindakan atau ucapan yang tidak mengenakkan.

Hal lain yang patut diingat, yaitu bahwa di zaman serba digital ini, interaksi dengan orang lain lebih banyak terjadi di dunia maya. Dan karena tidak secara langsung berhubungan, seharusnya kita lebih punya waktu untuk mencerna. Oleh karena itu, menahan diri dalam menanggapi satu berita yang diperoleh dari gadget sudah selayaknya dilakukan. Berita apa pun baik yang berupa informasi, ajakan, dan sebagainya harus disaring dengan cermat. Pastikan untuk memeriksa kembali apakah berita itu adalah suatu yang baik atau tidak dengan berpedoman pada empat syarat yaitu apakah itu benar, beralasan, bermanfaat, dan tepat pada waktunya. Setelah itu barulah kita memberikan tanggapan.

Terakhir, saya akan mengingat bahwa semua hal baik ini harus dijadikan kebiasaan seperti pepatah “Bisa karena Biasa”! Pada saat marah, kesal, sedih, dan ketika merasakan emosi negatif lainnya, reaksi sering diberikan tanpa berpikir panjang dan semua yang dikeluarkan adalah apa yang menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, di bulan suci Waisak ini, saya bertekad untuk melatih membiasakan diri agar tidak bereaksi negatif ketika mendapati hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Sangat tidak mudah, tapi saya mau mencoba. Dan seperti yang sering disarankan oleh Ashin Kheminda, ketika kita ingin marah atau berucap kasar, sebaiknya kita berkumur saja. Lakukan itu terus menerus setiap saat ketika ingin marah. Dengan demikian, kebiasaan akan terbentuk dan kita dapat menahan diri. Nasihat yang kedengarannya lucu dan sederhana namun sesungguhnya sangat bijak.

Saya berpikir, bila masing-masing individu memulai hal baik ini dari diri sendiri, tentunya ini dapat menciptakan lingkungan yang harmonis dan penuh kedamaian. Dimulai dari satu keluarga, kemudian menjangkau satu area sekitar rumah, lalu ke masyarakat yang lebih luas dan seterusnya. Bayangkan, ketika satu orang yang marah kemudian ditanggapi dengan welas asih karena adanya pengertian dan tenggang rasa oleh pihak lawannya, maka kemarahan akan berhenti di sana. Berbeda dengan kemarahan yang ditanggapi dengan marah pula, maka efeknya bukan saja mencakup pada dua orang tersebut, tapi akan meluas karena orang yang dimarahi itu kemudian akan melampiaskan lagi pada pihak lain, dan selanjutnya, hingga ini akan membesar dan membuat lingkungan menjadi tidak harmonis.

Untuk itu, sebagai tonggak pengingat, saya akan memulainya di bulan suci ini. Biarlah Waisak kali ini diwarnai dengan sesuatu yang beda, yang jauh dari hingar bingar perayaan dan kemeriahan, tapi kembali pada momen penyucian ke dalam diri, karena segala sesuatu yang terjadi sesungguhnya berasal dari diri sendiri. Dan, seperti apa yang diperingati saat Waisak, yaitu kelahiran, pencerahan serta wafatnya Buddha, semoga Waisak kali ini menjadi momentum kelahiran dari toleransi yang kuat, serta menjadi pengingat bahwa pencerahan yang dicapai oleh Pertapa Gotama adalah karena ia memiliki toleransi yang luar biasa untuk membantu semua makhluk dan membebaskan penderitaan mereka. Semoga dengan peringatan tiga peristiwa penting ini di mana salah satunya adalah wafatnya Buddha, hal tersebut dapat mendorong rasa ketergesaan kita dalam berbuat baik karena setiap makhluk pasti meninggal, bahkan Buddha sekali pun. Dengan mengingat bahwa kematian bisa datang kapan saja, rasanya tidak patut menunggu untuk memulai sesuatu yang baik demi mewujudkan perdamaian. Mari mulai dari diri sendiri dan jadikan Waisak sebagai momentum untuk menciptakan Indonesia yang damai.

Komentar via Facebook

Close