ArtikelKabar Dhamma

Dhammaduta: Sosok Pahlawan Dhamma

Oleh: Nikko Lee

Dharmaduta secara etimologis berasal dari dua kata yaitu “Dharma” yang berarti ajaran Buddha atau secara umum disebut dengan hukum kebenaran dan kata “duta” yang berarti utusan, pesuruh,  atau pengemban tugas. Jadi, Dharmaduta dapat diartikan sebagai pengemban tugas Dharma.

Secara kenyataan, Dharmaduta dikenal sebagai pengkotbah atau pembabar Dharma. Dengan demikian, dharmaduta adalah seorang anggota Sangha atau seorang Pandita atau seorang Upasaka-Upasika bahkan bisa saja seorang umat biasa yang pada umumnya membabarkan Dharma kepada orang lain.

Pasang Iklan

Seorang pembabar Dharma sejatinya memiliki tugas yang sangat mulia, dalam Dhammapada 354, disebutkan bahwa “Pemberian Dharma mengalahkan semua pemberiaan lainya”. Selain berguna untuk umat, Dharmaduta bahkan juga berguna untuk bangsa dan negara. Dikutip dari Nusantaranews.co, Dirjen Bimas Buddha Bpk. Caliadi bahkan mengatakan bahwa Dharmaduta sebagai ujung tombak kemajuan Buddha Dhamma di Indonesia.

Kehadiran Dharmaduta sendiri dimulai sejak ketika ada seorang Brahma Sahampati, yang memohon kepada Buddha untuk berkenan membabarkan Dharma mengingat banyak yang matanya masih tertutup sedikit debu (kekotoran batin). Kemudian, saat itu, Sang Buddha pun berkata “Terbukalah pintu kehidupan abadi bagi mereka yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan” (Widyadharma, 1981 : 33-35) dan ini menjadi titik awal keputusan Sang Buddha membabarkan Dharma.

Maka, dimulailah pembabaran pertama Sang Buddha yaitu kepada lima orang pertapa. Khotbah pertama sang Buddha sendiri dinamakan Pemutaran Roda Dharma (Dhammacakkappavatanasutta). Di sinilah tongkat sejarah pembabaran Dharma pertama, disusul dengan diterimanya Yasa sebagai siswa keenam, hingga disusul oleh 50 orang lagi yang menjadi siswa Sang Buddha.

Atas dasar belas kasih kepada dunia, Buddha mengutus 60 orang Arahat untuk membabarkan Dharma. Buddha mengatakan :

“Para Bhikkhu, pergilah mengembara demi kebaikan orang banyak, membawa kebahagiaan bagi orang banyak, atas dasar kasih sayang terhadap dunia, untuk kesejahteraan, keelamatan dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah pergi berdua-dua ke tempat yang sama. Para Bhikkhu, ajarkan Dharma yang indah pada awalnya, Indah pada pertengahannya, indah pada akhirnya. Aku juga, o para bhikkhu. Akan pergi ke Uruvela di Senanigama, dalam rangka mengajarkan Dhamma” (Mahavagga, Vinaya Pitaka I,21)

Inilah yang menjadi tongkat sejarah pembabaran Dharma. Setelah itu, 60 Arahat tersebut melakukan pembabaran Dharma selama 45 tahun ke daerah-daerah lain untuk membimbing matanya yang “tertutup sedikit debu” agar terbebas dari penderitaan. Ketika Samg Buddha mencapai Parinibbana, pembabaran Dharma secara sistematis dilanjutkan oleh Raja Asoka yang memerintah India tahun 272 – 232 SM. Rasa Asoka mengirim beberapa utusan, salah satunya mengirim putranya Mahinda ke Srilanka.

Pentingnya sosok Dhammaduta di Indonesia

Menurut data sensus penduduk tahun 1990, lebih dari 1% total penduduk Indonesia beragama Buddha, yaitu sekitar 1,8 juta orang. Sensus penduduk tahun 2000, umat Buddha berjumlah 1.694.682 orang atau 0,84% dari jumlah penduduk di Indonesia. Kemudian, pada tahun 2010, sensus penduduk menunjukkan angka umat Buddha di Indonesia mencapai 237.641.326 jiwa. Penduduk Indonesia beragama Buddha secara absolute berjumlah 1.703.254 orang atau sekitar 0.72%. Ini menunjukkan dalam kurun waktu 10 tahun, umat Buddha meningkat dalam nilai absolute tetapi turun secara persentase. (Berita Bhagavant; 2011)

Walaupun Indonesia bukan termasuk negara dengan jumlah populasi umat Buddha yang besar, namun jumlah tersebut tidak bisa dianggap kecil. Masih banyaknya umat Buddha yang berstatus Buddha KTP menjadikan sosok Dhammaduta menjadi amat penting dalam menyadarkan masyarakat Buddha tentang Buddhis sesungguhnya.

Kegiatan Dhammaduta mempunyai tujuan yang bersifat komunikatif dan sosial keagamaan, dimana kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan ajaran Buddha agar pendengar tersebut mengubah dan membentuk sikap serta tingkat laku yang sesuai dengan Buddha Dharma (Ksubo, 2009:1). Sehubungan dengan itu juga, Diwyanti (2011:1) menyatakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, Dharmaduta mempunyai peranan yang sangat penting untuk membina umat demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia.

Begitu pentingnya peran Dharmaduta, sehingga Buddha mendorong siswa-Nya agar menjadi seorang pembabar Dharma. Dalam Anguttara Nikaya V:10, seorang pelajar yang memiliki keyakinan, saleh, terpelajar, dan juga pembabar Dharma. Bila ia memiliki semua itu, ia sempurna sampai batas tersebut. Maka dari itu, menunjukkan bahwa seseorang yang mengerti akan ilmu dan mengerti akan Dharma maka dialah orang yang sempurna.

Mencetak Dhammaduta berkualitas

Membentuk Dharmaduta bukan suatu perkara yang mudah. Seorang dharmaduta harus bisa menjadi penyalur yang baik agar debu pikiran benar-benar bisa bersih dalam diri para umat. Maka dari itu, program membentuk seorang Dharmaduta sangat penting dilakukan oleh berbagai instrumen keagamaan Buddha, baik majalis, organisasi, lembaga, dan lain sebagainya. Salah satu lembaga yang berusaha menciptakan Dhammaduta terbaik yaitu DharmaSoka Institute.

Dikutip dari Dharmasoka.com, DHARMASHOKA INSTITUTE adalah sebuah lembaga atau perkumpulan yang bergerak di bidang penelitian, studi/pendidikan, pelatihan, pengembangan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman
Buddha Dharma. Sedangkan, Visi Dharmashoka Institute adalah mengembangkan mental spiritual manusia dan bangsa Indonesia yang seutuhnya.

Dalam mencapai hal ini pula, misi Dharmasoka Institute adalah menciptakan program pelatihan Dharmaduta secara regular dan berjenjang mulai dari level terbawah hingga tertinggi. Keseluruhannya dilakukan untuk meningkatkan kepiawaian, keterampilan, dan kepemimpinan para Dharmaduta.

Lembaga yang dibina oleh YM. Bhikkhu Pannasami Thera ini, bahkan telah memasuki fase ketiga pelatihan Dhammaduta Muda yang dilaksanakan dari 20 Juli hingga Oktober 2019. Terlebih lagi, Dharmasoka Institute juga telah berhasil menciptakan Dhammaduta Muda yang terampil dan juga aktif dalam bidang pengembangan Dhamma, salah satunya Upa. Hendra Awie.

Membentuk seorang Dhammaduta tentu bukan hanya harus menjadi satu inisiatif lembaga saja, tapi perlu adanya insiatif dari para Umat Buddha sendiri untuk belajar atau bahkan perlu adanya inisiatif dari Majelis-Majelis untuk mendukung program seperti ini agar para umat Buddha bersih dari debu-debu pikiran.

Dhammaduta, Seorang Pahlawan Dhamma

Pahlawan, dikutip dari tribunnews.com, adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang berjasa terhadap orang banyak dan berjuang dalam mempertahankan kebenaran. Pahlawan Dhamma? Suatu kata yang layak untuk menggambarkan seorang yang berjasa terhadap kehidupan orang banyak melalui Dhamma dan orang yang berjuang mempertahankan kebenaran realita secara Dhamma, maka seorang Dhammaduta sejatinya layak disebut sebagai seorang Pahlawan.

Apalagi Indonesia belakangan ditabrak oleh berbagai permasalahan kompleks yang menjadikan umat Buddha mudah diterjang isu negatif. Oleh karena itu, peran seorang Pahlawan Dhamma sangat perlu untuk menangkal isu-isu negatif berdasarkan Dhamma. Namun, apakah semua Dhammaduta layak dipanggil sebagai pahlawan Dhamma? Tentunya tidak. Tetap ada kaidah-kaidah yang harus ditaaiti oleh para Dhammaduta. Maka dari itu, Dhammaduta harus mengetahui sisi peran dari Dhammaduta.

 Peran Dhammaduta dalam membabarkan Dhamma dapat dianalisis dengan menggunakan  konsep role theory atau disebut dengan teori peran. Peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status) yang dimiliki oleh seseorang dimana status merupakan sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki oleh seseorang apabila seseorang melakukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban sesuai dengan kedudukan, maka diharapkan status dapat menjalankan suatu fungsi. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka seseorang menjalankan suatu peranan.

 

Dhammaduta sebagai  orang  yang dianggap lebih kompeten  selain para anggota Sangha tentunya diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai Dhamma kepada para umat agar dapat menanamkan nilai-nilai Dhamma. Berikut ini adalah beberapa peran yang dapat dilakukan oleh Dhammaduta dalam upaya menjadi pahlahwan Dhamma :

  1. Peran edukasi  yang  mencangkup  seluruh dimensi baik Dhamma maupun kehidupan secara Seorang Dhammaduta harus bisa mengedukasi umat berdasarkan dengan Dhamma dan realita saat ini.
  2. Peran memberi  pencerahan  kepada  umat  di saat situasi-situasi tidak menentu. Mengantisipasi agar tidak terjadinya konflik berkepanjangan.
  3. Bagi seorang Dhammaduta pengetahuan agama tentu perlu ditingkatkan kemampuan dan keterampilannya.
  4. Sebagai tokoh, para Dhammaduta juga harus bisa menjaga sikap dan tingkah laku karena seseorang yang mengenyam kata Dhammaduta harus berperilaku sesuai dengan

 

Dari hal yang penulis sampaikan di atas, sejatinya masih begitu banyak faktor ketika seseorang dapat disebut sebagai Dhammaduta yang baik. Namun, tentunya Dhammaduta memberikan ceramah sesuai dengan Dhamma dan kenyataan, begitu juga perilaku Dhammaduta sesuai dengan Buddha Dhamma. Niscaya, Umat Buddha akan semakin berkembang dan seorang Dhammaduta tersebut layak disebut pahlawan Dhamma.

 

Rangkuman

Secara nyatanya, kehadiran Dhammaduta dimulai sejak Sang Buddha meminta kepada para Arahat pergi ke berbagai penjurus dunia untuk membabarkan Dhamma dengan tujuan untuk membersihkan sedikit debu seperti yang dimohon oleh Brahma Sahampati.

Pembabaran Dhamma di Indonesia juga merupakan suatu hal yang penting untuk dilakukan, mengingat semakin hari jumlah umat Buddha semakin berkurang di Indonesia dan masih banyaknya Buddha KTP menjadikan Dhammaduta memiliki peran penting.

Oleh karena itu, upaya mencetak Dhammaduta-Dhammaduta berkualitas perlu dilakukan oleh berbagai instrumen Buddhis, seperti yang dilakukan oleh Dharmasoka Institute yang melakukan pelatihan Dhammaduta Muda. Instrumen lain, baik majelis-majelis, upasaka-upasika dan Umat Buddha dapat melakukan pelatihan serupa atau menjadi penyokong dalam menciptakan Dhammaduta yang berkualitas.

Dalam upaya menjadi seorang Dhammaduta sesungguhnya, maka para Dhammaduta dapat beberapa menggunakan metode dan harus mengerti peran sesungguhnya. Jika para Dhammaduta menjalankan tugasnya dengan baik, niscaya maka umat Buddha akan semakin maju dan Dhammaduta layak dipanggil sebagai pahlawan Dhamma.

 

Penulis:
Nikko Lee (Ketua PC HIKMAHBUDHI Medan 2018-2020)
Komentar via Facebook

Tags
Close