ArtikelInternational

Deep Listening: Mendengar untuk Memahami Orang Lain dan Diri Sendiri

Oleh: Jesslyn Metta

Semua orang pasti pernah punya masalah dan setiap orang pasti ingin didengar dan diperhatikan. Ketika orang terdekat kita sedang galau, stres, banyak pikiran, dan mereka meminta waktu untuk bercerita kepada kita, apa yang kita lakukan? Seringkali kita berusaha untuk membantunya dengan mencarikan solusi, memberi contoh pengalaman serupa, hingga bahkan malah balik membandingkan masalah mereka dengan masalah yang kita punya. Hal ini disebabkan karena kita seringkali mendengar, bukan untuk menyimak, namun untuk membalas. Kita menggunakan pikiran kita untuk membantu, namun justru yang terjadi adalah teman kita malah menjadi tambah terbebani.

Padahal, cara sederhana untuk mengurangi masalah mereka adalah hanya dengan menyimak, tanpa judgement, tanpa analisa, tanpa berusaha untuk menyelesaikan masalah. Kita hanya perlu duduk dan mendengarkan apa yang teman kita ceritakan dengan sepenuh hati. Hal ini yang dinamakan sebagai deep listening atau menyimak dengan sungguh-sungguh. Karena ketika mereka bercerita pada kita, mereka tidak benar-benar butuh saran ataupun masukan. Mereka hanya butuh orang yang mau mendengarkan keluh kesah mereka.

Pasang Iklan

Namun, hal inipun kadang sulit bagi kita, bukan? Untuk duduk dan hanya fokus mendengarkan omongan orang lain, pada saat kita pun juga mempunyai masalah yang ingin diceritakan. Namun, posisikan diri Anda sebagai sosok yang dipercaya oleh teman Anda tersebut, karena mungkin sulit bagi mereka untuk menceritakan penderitaan/masalah yang sedang mereka hadapi dan Anda dipilih pasti karena suatu alasan,yaitu mereka percaya dan nyaman untuk bercerita kepada Anda.

Maka dari itu, penting untuk kita sebagai orang yang dipercaya untuk menerima kepercayaan itu dengan sungguh-sungguh memperhatikan dengan hati terbuka dan tanpa berusaha untuk mengintervensi. Disini, peran mindfulness/kesadaran juga berlaku untuk diri kita. Ketika kita merasa tidak lagi fokus, atau ada saran,omongan yang ingin dikeluarkan, baik bagi kita untuk menyadari hal itu segera dan kembali memfokuskan pikiran dan perasaan untuk mendengar.

Berikut ini adalah beberapa cara untuk melakukan Deep Listening:

  1. Gestur tubuh yang relaks, ramah, dan pikiran yang terbuka
  2. Body language seperti anggukan kepala ataupun respon kecil yang menandakan bahwa Anda mendengarkan mereka dan Anda bersama mereka
  3. Anggap orang yang berbicara di depan Anda adalah orang terpenting saat ini, bahkan anak 5 tahun sekalipun
  4. Tidak perlu menganalisa keadaan mereka saat bercerita,cukup jadi saksi/pendengar dari cerita mereka
  5. Tidak menulis catatan dan menjaga kerahasiaan cerita mereka, kecuali dengan izin dari mereka untuk dibagikan kepada orang lain yang mungkin sedang mengalami hal yang sama
  6. Menghormati lawan bicara dengan tidak menilai, membandingkan, ataupun berlaku subjektif
  7. Jangan memberikan saran, bertanya, atau malah menimpali omongan mereka dengan cerita masalah orang lain atau cerita Anda sendiri
  8. Biarkan silence menjadi bagian dari pembicaraan. Jangan berusaha untuk mengisi kekosongan waktu
  9. Menangis adalah bagian dari penyembuhan. Ketika teman menangis, kita tidak boleh melarang mereka dan malah harus mengakui bahwa apa yang sedang mereka hadapi itu Khususnya bagi laki-laki, kita harus dapat menekankan bahwa menangis tidak akan membuatnya lemah. Menangis adalah reaksi alami yang dimiliki oleh semua orang.
  10. Ketika pikiran Anda mulai tidak konsen, selalu sadar dan fokuskan kembali pikiran Anda
  11. Ketika Anda merasakan emosi dan perasaan yang begitu kuat saat mendengar cerita teman anda (terharu, marah, sedih), atur kembali nafas anda dan relaks. Anda tidak perlu menunjukkan emosi Anda.
  12. Ketika orang tersebut selesai bercerita, Anda dapat berkata “Terima kasih sudah percaya pada saya.”
  13. Jika bisa, Anda dapat memberitahu mereka nilai lebih pada diri mereka, kekuatan apa yang Anda lihat dari diri mereka selama Anda menyimak ceritanya. Contoh: “Saya tahu Anda sangat kuat, saya lihat Anda orang yang berani. Saya sadar bahwa Anda sangat paham akan masalah yang sedang Anda hadapi, hanya saja kondisi saat ini belum cukup bagiAnda untuk dapat menemukan solusi yang tepat untuk masalah Anda.”

Bentuk dukungan termudah yang dapat kita berikan adalah dengan menjelaskan kelebihan dan kekuatan orang tersebut saat selesai bercerita. Ketika kita sedang memiliki banyak masalah dan menderitapun, satu-satunya hal yang kita butuhkan hanyalah orang yang mau mendengar cerita kita dan menyemangati kita dengan nilai-nilai positif yang kita miliki, supaya kita dapat kembali menyadari potensi diri dan lebih bijaksana dalam mengambil tindakan kedepannya.

Deep listening tidak hanya dapat diterapkan untuk rekan terdekat dan sanak family, namun juga (khususnya) kelompok marjinal (orang miskin, pengungsi, wanita, anak-anak, dan sebagainya) karena seringkali tidak ada yang peduli, mendengar, ataupun bahkan memperhatikan mereka.

(Tulisan ini merupakan hasil belajar dari workshop yang dilakukan oleh Ouyporn Khuankaew, seorang aktivis, feminis dan praktisi dari Thailand yang sudah puluhan tahun berkeliling dunia untuk mengajarkan banyak hal khususnya terkait persoalan seputar dunia aktivis maupun aktivis Buddhis pada umumnya. Beliau berkesempatan untuk hadir pada kegiatan International Young Bodhisattva Training yang diadakan oleh INEB pada awal Mei 2019 lalu.)

 

Komentar via Facebook

Close