BeritaDaerah

Dampak Media Sosial pada Generasi Milenial

Oleh: Jesslyn Metta

Generasi milenial erat kaitannya dengan media sosial. Hidup di dalam dunia teknologi, para milenial ini banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Berbagai perilaku baru muncul dan bahkan menjadi sebuah kebiasaan bagi millennials, tentunya ada yang positif dan negatif. Bagaimanakah sudut pandang agama melihat gejolak perilaku millennials akibat pengaruh media sosial ini?

Keluarga Mahasiswa Hindu Buddha (KMHB) Universitas Negeri Jakarta mencari tahu jawaban itu dengan mengadakan Seminar Lintas Agama “Pandangan Agama tentang Media Sosial yang Mempengaruhi Kebiasaan Millennial”. Bertempat di gedung Ki Hajar Dewantara, Universitas Negeri Jakarta Kampus A Rawamangun, seminar ini diadakan pada Sabtu, 9 Juni 2018 dan dibuka oleh Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan Achmad Sofyan Hanif. Kurang lebih 70 peserta mengikuti kegiatan seminar ini.

Pasang Iklan

Seminar kali ini diisi oleh lima narasumber dari berbagai agama, diantaranya Uung Sendana (Ketua Umum MATAKIN), Manuele Raintung (Ketua Umum PGI DKI Jakarta), I Wayan Kantun Mandara (Ketua PHDI Jakarta Pusat), Mulawarman Hannase (Sekretaris NU Jakarta), dan Suherman Widjaja (Penasehat PP Wandani).

Pada pemaparan materinya, Uung menjelaskan bahwa esensi dari kehidupan adalah perubahan (Yi Jing). Perkembangan zaman yang sudah berlangsung puluhan tahun tentu memberi dampak pada kondisi tiap generasi saat ini.

“Teknologi, termasuk sosial media juga merupakan bentuk perubahan.” pungkasnya.

Lebih lanjut, pemahaman mengenai fenomena tren menampilkan citra diri yang berlebihan di media sosial. Menurut Manuele, ini merupakan sebuah bentuk narsisme yang jika terus dibiarkan tanpa bimbingan, maka akan menjadikan manusia berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dan melupakan aspek lainnya, seperti aspek spiritual.

Dalam kesempatannya, Suherman mengatakan bahwa tidak semua hal mengenai generasi milenial maupun generasi Z adalah hal yang buruk. Terbukti dengan adanya peningkatan minat wirausaha yang tinggi di kalangan generasi milenial dan generasi Z, yang tentu berbeda dengan generasi sebelumnya.

Sementara, Wayan memberikan beberapa strategi dalam bermedia sosial, seperti memberikan pengawasan terkait penggunaan gadget pada anak oleh orang tua, membiasakan anak untuk bersosialisasi dalam kehidupan nyata sehari-hari, memperkenalkan anak kepada kearifan budaya lokal, khususnya permainan tradisional, serta mengajak anak untuk sering berinteraksi dan mencintai alam.

Dipenghujung acara, Mulawarman turut menambahkan bahwa dalam Islam terdapat beberapa prinsip dalam berkomunikasi. Salah satunya adalah pentingnya tabayyun atau konfirmasi. Hal ini dirasa penting di era digital seperti saat ini, mengingat banyaknya informasi-informasi yang tidak memiliki dasar valid alias hoax yang tersebar bebas di media sosial.

“Jadi, penting bagi kita untuk selalu bijak dalam menyebarkan pesan informasi di media sosial, jangan mudah terpancing berita-berita yang tidak memiliki sumber serta pengetahuan yang valid,” ungkapnya.

Komentar via Facebook

Close