ArtikelKabar DhammaOpini

Bulan Magha, Saksi Bisu Keberhasilan Ajaran Buddha di India

Oleh: Rendy Arifin

Seperti yang kita ketahui bahwa Agama Buddha memiliki empat hari raya, yaitu Waisak, Asadha, Kathina, dan Magha Puja. Nama-nama tersebut diambil dari nama bulan pada saat terjadinya peristiwa-peristiwa penting di masa Buddha Gotama. Semua peristiwa tersebut terjadi pada saat bulan purnama sempurna (siddhi).

Empat Peristiwa Penting

Pasang Iklan

Di Indonesia, Hari Magha Puja umumnya jatuh setiap bulan Februari. Hari Magha Puja ini memperingati empat peristiwa penting yang hanya terjadi satu kali pada masa Buddha Gotama, yaitu:

  1. Berkumpulnya 1.250 bhikkhu tanpa diundang atau pemberitahuan terlebih dahulu
  2. Mereka semua telah mencapai tingkat kesucian Arahat (tingkat kesucian tertinggi dalam agama Buddha)
  3. Mereka semua memiliki Abhiñña (kemampuan batin)
  4. Mereka semua ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha dengan “Ehi Bhikkhu Upasampada

Peristiwa penting ini dinamakan Caturangga-sannipata, yang berarti pertemuan besar para Arahat yang diberkahi dengan empat faktor. Mereka berkumpul di Veluvana Arama (Hutan Bambu) di Rajagaha. Pada kesempatan ini, Sang Buddha membabarkan Ovada Patimokkha yang berisi tentang prinsip-prinsip ajaran para Buddha. Pada momen ini juga, Sang Buddha mengangkat Bhikkhu Sariputta dan Bhikkhu Moggalana sebagai siswa utama (Agasavaka).

Mendobrak Sistem Kasta di India

Setelah Sidhartha Gotama mencapai penerangan sempurna di bulan Waisak pada tahun 588 SM atau saat berusia 35 tahun, tidak semua lapisan masyarakat di India dapat menerima dan percaya dengan apa yang ia ajarkan. Terlebih ia adalah kasta ksatria yang lebih rendah dari kasta brahmana. Seperti yang diketahui bahwa di India ada empat tingkatan kasta, yaitu brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Brahmana merupakan kasta tertinggi yang dihormati, dipuja, dan disokong kehidupannya oleh kasta-kasta dibawahnya. Mereka umumnya mempunyai banyak pengikut dan masuk dalam sendi-sendi pemerintahan sebagai penasihat spiritual kerajaan. Tidaklah mudah bagi Buddha Gotama untuk mengubah mind-set masyarakat India pada masa itu untuk dapat menerima, mengerti, dan mempraktikkan ajarannya. Sejak mencapai penerangan sempurna, ia menyadari bahwa semua makhluk di dunia ini tanpa terkecuali memiliki benih Buddha dan oleh sebab itu, semua makhluk tersebut dapat menjadi Buddha (yang sadar/tercerahkan). Kehidupan yang penuh dengan dukkha (penderitaan), aniccca (tidak kekal), dan anatta (tanpa inti) ini sebenarnya dapat dihentikan dengan ajaran (Dhamma) dan praktik yang benar. Buddha Gotama mengajarkan kesetaraan. Semua kasta apapun dapat mencapai kesucian. Salah satu siswa Buddha yang berasal dari kasta rendah adalah Bhikkhu Upali yang sebelumnya adalah seorang tukang cukur rambut dan berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat.

Penjelasan Kasta di dalam Sutta

Na jaccā brāhmaṇo hoti, na jaccā hoti abrāhmaṇo;

Kammunā brāhmaṇo hoti, kammunā hoti abrāhmaṇo.

Seseorang bukanlah brahmana karena kelahiran, bukan pula bukan brahmana karena kelahiran. Karena perbuatan seseorang adalah brahmana, dan karena perbuatan pula seseorang bukanlah brahmana.

(Vāseṭṭha Sutta, Majjhima Nikāya)

Di dalam Vāseṭṭha Sutta, Sutta Nipāta, dijelaskan bahwa di antara manusia, tidak ada yang berbeda dari segi mata, hidung, telinga, rambut, dan lainnya. Manusia tidak seperti binatang yang memiliki banyak spesies. Perbedaan yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya hanyalah persetujuan. Sebagai contohnya, jika seseorang memelihara sapi dan hidup dari pekerjaannya itu, ia disebut petani (kassako); hidup dengan keterampilan disebut pengrajin (sippiko), hidup dengan berdagang disebut pedagang (vāṇijo), hidup dengan upah melayani orang disebut pegawai (pessiko), hidup dengan mencuri disebut pencuri (coro), hidup dengan keterampilan memanah disebut prajurit (yodhājīvo), hidup dengan melayani kegiatan ritual disebut pendeta (yājako), atau orang yang hidup dengan mengatur negara atau desa disebut raja (rājā). Di dalam Aggañña Sutta juga dijelaskan bahwa karena tugas dan profesi yang seseorang kerjakanlah yang membuat seseorang disebut khattiyā, brāhmaṇā, vessā, ataupun suddā.

Cendekiawan dan Ilmu Politik Kerajaan

Sejak kecil, Sidhartha Gotama sudah dididik untuk menjadi seorang raja. Ia merupakan orang yang cerdas dan terampil. Semua yang diajarkan oleh gurunya dapat dikuasai dengan singkat. Sebut saja seperti pelajaran berhitung, membaca, menulis, berkuda, dan memanah. Sejak kecil pun ia sudah diajarkan tentang ajaran brahmanisme yang memang pada saat itu kental dalam masyarakat India. Semakin besar, ia diajarkan tentang gaya bertarung, strategi perang, cara memimpin kerajaan, cara berbicara serta negosiasi, dan lain sebagainya yang memang penting digunakan oleh seorang raja untuk membuat kemakmuran rakyatnya, mempertahankan daerah kekuasaannya, dan bahkan ekspansi kekuasaan.

Ilmu-ilmu yang didapatkan sejak kecil inilah yang Buddha Gotama gunakan dalam membantu penyebaran ajaran-Nya di India. Apakah iya? Disadari atau tidak, Buddha Gotama memulai penyebaran ajaran-Nya dengan “menghantam” kaum Brahmana. Brahmajala Sutta merupakan salah satu jurus ampuh untuk menyadarkan kaum brahmana. Brahmajala Sutta berisi tentang 62 pandangan salah, diantaranya: jiwa (atta) dan dunia (loka) adalah kekal, asal mula sesuatu terjadi karena kebetulan bukan tanpa sebab, setelah meninggal akan hancur dan lenyap, dan hal-hal kekeliruan tentang jiwa (atta). Seperti yang diketahui bahwa para pemimpin brahmana memiliki banyak pengikut dan ketika para pemimpinnya menyatakan menjadi siswa Buddha, maka para pengikutnya pun mengikuti. Ibarat berperang, jika sudah berhasil menangkap panglima atau rajanya maka pasukannya pun akan menyerah. Beberapa siswa Buddha yang berasal dari kaum brahmana, diantaranya Bhikkhu Kondañña, Bhikkhu Maha Kassapa, Bhikkhu Sariputta, dan Bhikkhu Moggalana.

Dengan kemampuan-Nya juga, ia dapat memahami bagaimanakah cara yang tepat untuk mengajarkan Dhamma kepada seseorang. Apakah harus menggunakan kemampuan batin ataukah hanya dengan cara sederhana? Dalam waktu singkat, Buddha Gotama sudah memiliki 60 orang bhikkhu yang semuanya sudah mencapai tingkat kesucian Arahat. Dengan kata lain, mereka sudah melihat dengan jernih dan mampu mengajarkan kebenaran (Dhamma) ini secara benar kepada orang lain. Dengan kepiawaian-Nya, Buddha memerintahkan 60 arahat tersebut untuk menyebar ke berbagai daerah secara terpisah dan mandiri. Ini salah satu strategi ekspansi ajaran Buddha agar lebih banyak orang yang memahami dan mempraktikkannya.

Sembilan Bulan Setelah Menjadi Buddha

Buddha Gotama yang muncul dengan kesetaraan kasta dan meluruskan kekeliruan-kekeliruan tentang berbagai pandangan salah, ajaran-Nya pun mulai diterima dan dipraktikkan oleh masyarakat luas. Pengikutnya (bhikkhu sangha) sudah tidak terbilang sedikit. Bulan Purnama Siddhi di bulan Magha bisa dibilang menjadi puncak keberhasilan Buddha Gotama menyebarkan kebenaran (Dhamma) di India, bertepatan dengan sembilan bulan setelah ia mencapai penerangan sempurna. Berkumpulnya 1.250 bhikkhu yang sudah mencapai tingkat kesucian tertinggi (Arahat) dan semuanya ditahbiskan langsung (Ehi Bhikkhu Upasampada) oleh Sang Buddha. Ini menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan-Nya. Belum lagi bhikkhu-bhikkhu lain yang masih berjuang untuk mencapai tingkat kesucian Arahat tidak terhitung jumlahnya, seperti Bhikkhu Ananda dan lainnya. Ditambah lagi hasil penyebaran 60 Arahat yang pastinya berhasil mempunyai ratusan ataupun ribuan siswa bahkan lebih yang ditahbis sendiri oleh mereka (Tisaranagamanupasampada). Tidak hanya penyebaran secara kuantitas, ajaran Buddha juga berkembang secara kualitas. Memang tidak ada angka pasti berapa banyak pengikut Buddha pada masa itu, tapi merujuk dari pertemuan di bulan Magha ini, bisa dikatakan bahwa ajaran Buddha sudah diterima dan dipraktikkan oleh berbagai lapisan masyarakat di India. Ini yang dibahas baru para bhikkhu, belum para perumah tangga seperti Anathapindika, Visakha, Raja Bimbisara, dan lain sebagainya.

Bagaimana Para Bhikkhu Berkumpul Tanpa Diundang?

Para bhikkhu yang datang ini bisa dibilang adalah para bhikkhu yang spesial karena mereka memiliki Abhiñña. Dengan kemampuan tersebut, bukan hal yang sulit bagi mereka untuk datang di waktu bersamaan. Apa saja kemampuan batin yang mereka miliki?

  1. Pubbenivasanussatinana, yang berarti kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang dulu.
  2. Dibbacakkhunana, yang berarti kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan kesanggupan melihat muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan karmanya masing-masing (mata dewa).
  3. Asavakkhayanana, yang berarti kemampuan untuk memusnahkan asava atau kekotoran batin.
  4. Cetoporiyanana, yang berarti kemampuan untuk membaca pikiran makhluk-makhluk lain.
  5. Dibbasotanana, yang berarti kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam apaya, alam manusia, alam dewa, dan alam brahma yang dekat maupun yang jauh.
  6. Iddhividhanana, yang berarti kekuatan magis, yang terdiri dari :
    1. Adhittana-iddhi, yang berarti kemampuan mengubah tubuh sendiri dari satu menjadi banyak dan dari banyak menjadi satu.
    2. Vikubbana-iddhi, yang berarti kemampuan untuk “menyalin rupa “, umpamanya menyalin rupa menjadi anak kecil, raksasa membuat diri menjadi tidak tertampak.
    3. Manomaya-iddhi, yang berarti kemampuan mencipta dengan menggunakan pikiran, umpamanya menciptakan harimau, pohon, dewi.
    4. Nanavipphara-iddhi, yang berarti pengetahuan menembus ajaran.
    5. Samadhivipphara-iddhi, yang berati kemampuan konsentrasi, seperti :
  • Kemampuan menembus dinding, tanah, dan gunung.
  • Kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan menyelam kedalam air.
  • Kemampuan berjalan diatas air.
  • Kemampuan melawan air.
  • Kemampuan terbang di angkasa.

Ovada Patimokkha

Ovada Patimokkha berisi tentang prinsip-prinsip ajaran para Buddha. Isi dari Ovada Patimokkha tercantum dalam syair Dhammapada Bab XIV ayat 183, 184, dan 185.

Janganlah berbuat kejahatan,
Perbanyaklah perbuatan baik,
Sucikan hati dan pikiran,
Inilah ajaran para Buddha.

Kesabaran adalah praktik bertapa yang paling tinggi.
“ Nibbana adalah yang tertinggi,” begitulah sabda para Buddha.
Dia yang masih menyakiti orang lain,
Sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).

Tidak menghina, tidak menyakiti,
Mengendalikan diri sesuai dengan peraturan,
Makanlah secukupnya,
Hidup di tempat yang sunyi,
Dan giat mengembangkan batin nan luhur,
Inilah ajaran para Buddha.

 

 

Referensi:

 

Komentar via Facebook

Close