ArtikelKabar Dhamma

Buddhisme 4.0

Oleh: Bhikkhu Ratanadhiro

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

 

Pasang Iklan

“Paññavanto aya dhammo, nāya dhammo duppaññassā’ti.”

Dhamma sesungguhnya untuk orang bijaksana, bukan untuk orang tidak bijaksana.

(Anuruddha-mahāvitakka Sutta; AN 8.30)

 

Dewasa ini, agama Buddha mendapat sambutan hangat di berbagai belahan dunia, jauh melebihi tanah asalnya. Masyarakat luas sangat tertarik mempelajari dan mempraktikkan ajaran Buddha walaupun statusnya bukanlah seorang Buddhis. Ajaran yang sudah berumur lebih dari 2500 tahun ini pada akhirnya menjadi barang antik yang tak ternilai harganya. Terlebih ada banyak sekali kesamaan antara Buddhisme dan sains modern yang menunjukkan bahwa tidak ada sekat waktu dalam Dhamma (akāliko).

Ajaran Buddha tentang hukum karma (kamma) mudah diterima oleh kalangan luas. Pandangan Buddhisme mengenai kelahiran kembali (punabbhava) membuka paradigma berpikir banyak orang tentang adanya kehidupan setelah kematian. Praktik hidup berkesadaran melalui meditasi (bhāvāna) menjadi bagian dari kebutuhan umat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Buddha hanyalah sebagai guru yang menunjukkan jalan (akkhātāro tathāgatā). Buddha menyadari bahwa oleh diri sendiri perbuatan buruk dilakukan, oleh diri sendiri seseorang terkotori. Dengan cara yang sama, oleh diri sendiri perbuatan buruk ditinggalkan dan oleh diri sendiri pula seseorang tersucikan (attanā va kataṁ pāpaṁ, attanā saṁkilissati; attanā akataṁ pāpaṁ, attanāva visujjhati; Dhp 166).

Buddhisme  bukanlah ajaran pesimistis ataupun optimistis, melainkan realistis. Buddha tidak hanya menunjukkan kenyataan tentang penderitaan, tetapi juga menjelaskan bahwa penderitaan dapat diakhiri. Apa yang Buddha ajarkan pada dasarnya adalah penderitaan dan lenyapnya penderitaan (pubbe cāhaṁ bhikkhave, etarahi ca dukkhañceva paññāpemi, dukkhassa ca nirodhaṁ; M 1. 140). Untuk itulah Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia sebagai ajaran awalnya sekaligus ajaran termulia.

Ajaran tentang Empat Kebenaran Mulia juga disebut sebagai ajaran unik para Buddha (Buddhānaṁ sāmukkaṁsikā dhammadesanā; M 1. 380). Empat Kebenaran Mulia ini berisi seluruh ajaran Buddha yang mengandung banyak prinsip lain, seperti telapak kaki gajah yang terdapat banyak jejak kaki binatang-binatang lainnya (Seyyathāpi, āvuso, yāni kānici jaṅgalānaṁ pāṇānaṁ padajātāni sabbāni tāni hatthipade samodhānaṁ gacchanti, hatthipadaṁ tesaṁ aggamakkhāyati yadidaṁ mahantattena; evameva kho, āvuso, ye keci kusalā dhammā sabbete catūsu ariyasaccesu saṅgahaṁ gacchanti. M 1. 184)

Bagi penganut agama Buddha, ajaran Empat Kebenaran Mulia sangatlah penting untuk dimengerti sepenuhnya. Buddha sendiri mengatakan di dalam Paṭhamakoṭigāma Sutta bahwa karena tidak memahami dan tidak menembus Empat Kebenaran Mulia ini, semua makhluk harus mengembara di alam saṁsāra ini (Catunnaṁ, bhikkhave, ariyasaccānaṁ ananubodhā appaṭivedhā evamidaṁ dīghamaddhānaṁ sandhāvitaṁ saṁsaritaṁ mamañceva tumhākañca; S 5. 431). Semua orang dapat tercerahkan karena memahami ajaran Empat Kebenaran Mulia. Baik masa lalu, sekarang, dan masa depan, orang-orang meninggalkan kehidupan berumah dan menjalani kehidupan tanpa rumah karena ingin menembus Empat Kebenaran Mulia (Ye hi keci, bhikkave, atītamaddhānaṁ kulaputtā sammā agārasmā anagāriyaṁ pabbajiṁsu, sabbe te catunnaṁ ariyasaccānaṁ yathābhūtaṁ abhisamayāya; S 5. 415).

Inti dari ajaran Empat Kebenaran Mulia adalah tentang penderitaan (dukkha), sebab dari penderitaan (dukkhasamudayo), lenyapnya penderitaan (dukkhanirodho), dan jalan menuju lenyapnya penderitaan (dukkhanirodhagāminī paṭipadā; M 1. 432). Metode untuk mengakhiri penderitaan sebagaimana yang telah dijelaskan sesungguhnya sangat bersesuaian dengan ilmu pengetahuan modern. Melalui Empat Kebenaran Mulia, Buddha menganalisis penyakit utama manusia, mendiagnosis sumbernya, mencari obatnya, dan merawat agar sembuh seperti sedia kala. Dengan kata lain, dukkha adalah penyakitnya, nafsu keingingan adalah hasil pemeriksaannya, nibbāna adalah penyembuhannya, dan Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah pengobatannya.

Buddhisme menunjukkan cara paling akurat untuk mengatasi berbagai macam problematika kehidupan. Ajaran Buddha mengenai Empat Kebenaran Mulia dapat menjadi solusi pragmatis terhadap semua masalah yang tengah berlangsung saat ini. Penjabaran Empat Kebenaran Mulia berbasis teori praktis adalah sebagai berikut:

  1. Investigasi masalah
  2. Ekspolrasi penyebab masalah
  3. Realisasi solusi dengan meniadakan masalah
  4. Integrasi cara penyelesaian masalah untuk seterusnya ditindaklanjuti

 

Pustaka Rujukan

  • Dhammapada: The Buddha’s Path of Wisdom. Translated by Ācarya Buddharakkhita. Kandy: Buddhist Publication Society, 2007.
  • Majjhima Nikāya: The Middle Length Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Ñaṇamoli. Edited and Revised by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 1995.
  • Saṁyutta Nikāya: The Connected Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2000.

 

Sumber: Berita Dhammacakka edisi Minggu, 10 Februari 2019

Komentar via Facebook

Close