ArtikelOpini

Biarkan Semua Kebahagiaan Hadir Seperti Bulan Waisak

Oleh: Sonny Santosa

Sebuah Refleksi : RENGKUHLAH1 DAMAI DI BULAN MEI

Biarkan Semua Kebahagiaan Hadir Seperti Bulan Mei17

Pasang Iklan

Ini adalah bulan pembaruan dan penyegaran, khususnya bagi masyarakat Buddhisme. Bulan yang dijadikan momen terbaik bagi masyarakat Buddhisme untuk merenungkan salah satu Sabda suci dari Sang Buddha Gotama yang tertuang di dalam Kitab Suci Dhammapada, Bab XII, syair 1642, yang berisi tentang :

Karena pandangan yang salah orang bodoh menghina ajaran orang mulia, orang suci dan orang bijak. Ia akan menerima akibatnya yang buruk, seperti rumput kastha yang berbuah hanya untuk menghancurkan dirinya sendiri.

Syair diatas memperlihatkan kepada kita bahwa apa pun yang kita harapkan, baik itu kedamaian pikiran, perasaan puas, karunia, dan kesadaran batin, pasti akan datang kepada kita, tetapi hanya bila kita sudah siap menerimanya dengan hati terbuka dan penuh syukur, menerima perbedaan, tidak dengan cara sebaliknya.

Waisak yang jatuh tepat di Bulan Mei di tahun 2018 ini akan kembali memancarkan sinar keagungan-Nya tatkala kita mengingat kembali bahwa ada seorang Petapa Agung3 yang telah menggenapi tekad luhur-Nya yang telah ditanam sejak lama. Bulan ini pula sebaiknya kita mengarahkan perhatian ke dalam diri kita, ke dalam “rumah” kita sendiri, di mana untuk waktu yang sesaat, kita terus berupaya membersihkan kotoran yang melekat di dalam “rumah”4, kita mengingat kembali dengan kekuatan transformatif dari sebuah prinsip keteguhan yang Petapa Agung lakukan yaitu “Tekad”.

Seorang sastrawan klasik mengatakan “Rumah adalah tempat seorang bermula”5, inilah yang membuat kita telah melewati momen kebersamaan di ”rumah” ini, hingga kini “rumah” itu telah menjelma menjadi tempat di mana banyak pria dan wanita6 selalu mendamba ingin bisa kembali ke ”sana”7, harusnya di momen yang baik ini kita mulai memperbaiki tekad kita untuk mempercayai bahwa waktu, energi, dan emosi yang setiap hari kita investasikan dalam bentuk kebajikan atau kebalikannya pada “rumah” ini, adalah mempunyai arti untuk menyiapkan sebuah dayung sampan yang kokoh agar dapat berlabuh di pantai seberang8, di mana semua tugas kita terselesaikan dengan baik tanpa terbawa arus ombak kembali ke samudera kehidupan lagi.

Bagi saya, Indonesia adalah sosok legenda Sang Putri Tidur yang menanti untuk dibangunkan dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus. Karena telah lama sekali tidur, Sang Putri Tidur harus dibangunkan dengan sangat lembut. Untuk membangunkan Sang Putri Tidur kita perlu memupuk kekuatan kebajikan dari diri kita sendiri untuk memusnahkan “kutukan jahat” yang membuat kita tidak menyadari akan kelebihan diri kita sendiri. Dan kini, ketika Sang Putri Tidur mulai terbangun perlahan, maka hal yang pertama Sang Putri Tidur lihat adalah diri kita, diri sejati kita, yang senantiasa membisikkan sebuah seruan: pandanglah diriku dengan penuh kasih. Luka kecil yang mengusik Sang Putri Tidur mungkin sebuah penderitaan tanpa suara.

Tatkala Sang Putri Tidur sudah terbangun, Sang Putri Tidur berusaha merengkuh kepada diri kita, mencari sebuah perlindungan atas apa yang akan terjadi kelak, di luar mungkin kita bisa berpura-pura aman, tetapi pada kenyatannya kita masing-masing masih mengalami hari-hari gelap ketika badai mendera, ketika kita merasa diri kita kecil tak berarti, sangat rapuh dan ketakutan begitu menghantui. Ada sebuah pertanyaan sederhana bagi kita semua, yaitu sudah Siapkah kita menjaga Sang Putri Tidur kita ini kelak jika terbangun !! Siapkah kita menjaga Indonesia Kita ini !!

Saya mendengar suara hati kecil dari pancaran mata Sang Putri Tidur yang bersuara lembut: “Hei, pemuda tampan, aku (Sang Putri Tidur) hendak engkau bawa ke mana ketika aku sudah terbangun dari tidurku yang panjang..?”. Tentu kita akan bawa Sang Putri Tidur tersebut ke tempat yang aman, ke tempat yang setidaknya bisa menghambat pengaruh buruk terhadap kehidupan Sang Putri Tidur, yaitu “rumah”9 kita sendiri. Kita akan selalu berusaha membuat Sang Putri Tidur tersebut agar yakin dan percaya dengan kita, kita ingin sekali membuat segala sesuatu yang kita kerjakan di “rumah” menjadi masuk akal, penuh ketenangan, dan rasa aman, bagi diri kita sendiri dan bagi mereka yang kita cintai10.

Momentum Waisak tahun 2018 yang bertepatan jatuh di hari Selasa, 29 Mei 2018 ini, yang harusnya dijadikan momentum untuk mengingat kembali akan sebuah tekad luhur dari Sang Petapa Agung, telah dicemari sebelumnya dengan berbagai “kesibukan”11 luar biasa yang menganggu dan menimbulkan rasa kekhawatiran pada diri Sang Putri Tidur, sebuah kesibukan yang tak harusnya terjadi pada Sang Putri Tidur, ingin rasanya kubisikkan: “Maafkan saya Sang Putri, ada begitu banyak kejadian yang tak boleh kukatakan kepadamu”.

Dikala banyaknya “kejadian” tersebut, momentum waisak ini sangat tepat untuk kita saling mengingatkan bahwa Waisak merupakan sebuah bingkai filosofis dan historis dari untaian benang emas 25 abad yang lampau, yang mengemban misi perdamaian yang diikat dengan dasar kasih sayang demi sebuah kebaikan, membawa kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan banyak orang12, dan dari semua rasa itu akan dapat kita selami kembali bersama-sama dengan Sang Putri Tidur dibawah sinar rembulan purnama di bulan waisak.

Diawal saya mengutip salah satu Sabda Suci dari Sang Buddha Gotama yang tertuang di dalam Kitab Suci Dhammapada, Bab XII, syair 16413, Beliau bersabda :

Karena pandangan yang salah orang bodoh menghina ajaran orang mulia, orang suci dan orang bijak. Ia akan menerima akibatnya yang buruk, seperti rumput kastha yang berbuah hanya untuk menghancurkan dirinya sendiri.

Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa ketika saya membaca artikel bebas yang saya dapatkan dari sebuah laman bebas di internet14, saya menemukan pengertian yang sama persis seperti apa yang telah Sang Buddha sabdakan kurang lebih 25 abad yang lampau, yaitu bahwa proses asosiatif memberi jalan bagi terwujudnya keteraturan sosial. Sebaliknya, proses disosiatif membuka peluang terciptanya kekacauan. Keduanya membentuk adanya dinamika sosial dalam masyarakat. Seperti yang kita ketahui bersama, proses asosiatif berwujud pada Kerjasama, Akomodasi, Asimilasi, dan Akulturasi, keempat hal inilah yang bisa menjaga Sang Putri Tidur, Indonesia, kita ini agar dapat terus merasakan damai dan bahagia. Sebaliknya proses disosiatif bewujud pada Persaingan Tidak Sehat, Kontravensi Pandangan, Pertikaian dan berujung pada Konflik. Kita akan memberikan Sang Putri Tidur (Indonesia) kita dengan pilihan yang mana?

Syair di atas merupakan bagian kecil dari ajaran Buddha kurang lebih 25 abad yang lampau, yang meskipun kecil seolah sudah memberikan jawaban atas segala kerisauan dan kekacauan yang mendera tidak hanya pada Sang Putri Tidur (Indonesia), tetapi juga pada “rumah” kita. Beliau15 menyuarakan sebuah pilihan yang dapat memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi Sang Putri Tidur, bagi rumah kita sendiri, yaitu Indonesia. Dengan harapan yang baik, marilah kita sambut Waisak kali ini dengan penuh semangat, cinta, dan hati yang dipenuhi rasa syukur atas perbedaan yang beragam, dengan cara demikian kita akan selalu belajar menghargai anugerah yang kita terima sehari-hari, sehingga kita dapat mengikuti napak tilas dari Yang Suci16, dan mencapai pantai seberang, Nibbana.

 


1 https://kamuslengkap.com/kamus/kbbi/arti-kata/rengkuh

2 https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-kala-thera/

3 Petapa Agung Siddhartha Gautama

4 Rumah = Diri Sendiri ; Batin (namarupa)

5 Sastrawan bernama T.S. Elliot

6 Semua mahkluk

7 Ke”sana” identic dengan tumimbal lahir lagi dan ingin menjadi lagi….

8 Nibbana

9 Diri kita sendiri

10 Sang Putri Tidur = Indonesia

11 Peristiwa Pemboman Di Beberapa Tempat

12 Vin. I. 21

13 https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-kala-thera/

14 http://sosiologis.com/keteraturan-sosial

15 Sang Buddha Gotama

16 Tuhan Yang Maha Esa

17 Bulan Waisak

 

Sonny Santosa
- Dosen Universitas Buddhi Dharma
- Dhammaduta

 

Komentar via Facebook

Close