ArtikelKabar Dhamma

Bertikai Kita Runtuh

Oleh: Bhikkhu Ratanajayo

Pare can a vijānanti,

Mayamettha yamāmase;

Pasang Iklan

Ye ca tattha vijānanti,

Tato sammanti medhagā

Sebagian orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan vinasa, tetapi mereka yang dapat menyadari kebenaran ini akan segera mengakhiri semua pertengkaran.

(Dhammapada syair 6)

 

Hidup tidak selalu rukun dan harmonis, meski tiap orang mengharapkan kerukunan dan keharmonisan senantiasa menyertai hidup mereka. Sering kita menjumpai, pasangan suami istri bertengkar, orangtua dan anak berselisih, serta guru dengan murid selisih paham. Dalam ruang lingkup yang lebih besar, perselisihan bisa terjadi antara kelompok yang satu dengan yang lain, kerajaan yang satu dengan yang lain, atau negara yang satu dengan negara yang lain. Apabila perselisihan tersebut tidak dapat diatasi dengan baik, dengan solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak maka dapat berujung pada kekerasan atau perilaku menyakiti orang lain.

Mengapa bisa terjadi perselisihan? Apakah yang menjadi penyebabnya? Dalam Aṅguttara Nikāya 2.37, Yang Mulia Mahākaccāna menjawab pertanyaan yang diutarakan oleh Brahmana Ārāmadaṇḍa perihal sebab perselisihan yang terjadi di antara para kesatria, brahmana, dan perumah tangga. Yang Mulia Mahākaccāna menjelaskan kepada brahmana tersebut, bahwa (1) keterikatan terhadap nafsu pada kenikmatan indria dan (2) keterikatan terhadap nafsu pada pandangan-pandangan adalah penyebabnya.

Ketika seseorang terikat pada nafsu keingingan indera atau nafsu pada pandangan, akibatnya ia menjadi terikat, terobsesi, hingga pada akhirnya menggenggam erat-erat apa yang ia senangi dan yakini, maka segala cara akan diupayakan agar tidak ada yang dapat mengurangi, mengambil, mengubah, melukai, dan menghilangkan apa yang menjadi sumber dari keterikatan pada nafsu keingingan indera atau nafsu pada pandangan tersebut.

Sebagai contoh, ketika seseorang begitu melekat pada harta benda atau materi yang ia sukai atau miliki, ia akan dengan sekuat tenaga berusaha menjaga dan mempertahankan apa yang ia sukai tersebut. Apabila ada orang lain atau pihak lain yang berupaya merebut apa yang menjadi kesenangannya, ia menjadi gusar, marah, bahkan bersikap menyerang. Begitu pula ketika seseorang amat melekat pada pandangannya, apabila ada orang yang memiliki pandangan berbeda dengan pandangan yang ia miliki, ia menentang, menghujat, dan menjelekkan pandangan yang berbeda dengannya tersebut.

Adakah solusi agar seseorang dapat hidup harmonis tanpa permusuhan?

  1. Mengembangkan cinta kasih dan kesabaran

Tidak semua prasangka buruk yang muncul dalam pikiran seseorang sesuai dengan kenyataannya. Mempraktikkan cinta kasih dan kesabaran adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan seseorang untuk dapat mengakhiri pertikaian dan perselisihan. Dalam tiap-tiap pikiran, ucapan, dan perbuatan, ia berusaha meliputnya dengan cinta kasih. Berupaya untuk tidak memiliki niat jahat dan mengasihi makhluk lain. Apabila ia telah berusaha mengupayakan hal tersebut namun tetap saja ada orang lain atau pihak lain yang melakukan upaya-upaya jahat dan tidak menyenangkan terhadapnya, maka ia praktikkan kesabaran. Mempraktikkan kesabaran berarti seseorang tidak lekas menjadi gusar dan marah apabila ada orang lain yang berbuat tidak menyenangkan terhadapnya. Ia menjadikan orang tersebut sebagai guru kesabaran dalam hidupnya.

  1. Mengembangkan kepuasan hati dan kedermawanan

Salah satu sumber pertikaian dan perselisihan adalah keserakahan. Tiap orang menginginkan apa yang menjadi dambaan atau kesenangannya secara berlebihan dan terus-menerus. Ketika apa yang menjadi keinginannya tersebut tidak tercapai, maka ia menggunakan berbagai macam cara untuk memperolehnya. Seseorang yang tidak dapat menahan diri, karena dikuasai keserakahan dan kemelekatan, bisa jadi akan menggunakan cara-cara yang salah untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Menjadi puas dengan apa yang telah dimiliki dapat menekan keserakahan dalam diri. Selain itu, mempraktikkan kemurahan hati juga dapat mengikis keserakahan. Ketika seseorang tidak melekat dan tidak terobsesi dengan nafsu kesenangan indera, maka hidupnya menjadi lebih harmonis dan bahagia. Ia mampu mengendalikan keinginan dan dapat membagikan apa yang menjadi miliknya kepada orang lain.

  1. Bijaksana dalam memandang perbedaan

Upaya yang bisa dilakukan untuk mengakhiri pertikaian dan perselisihan adalah dengan mengembangkan kebijaksanaan dalam diri. Salah satunya adalah dengan menerima dan memaklumi perbedaan. Memandang bahwa tiap orang adalah unik dan berbeda. Misalnya perbedaan dalam hal kesukaan, pengetahuan, kebiasaan, dan tujuan hidup. Seseorang yang dapat menyikapi perbedaan dengan bijak, tentulah akan menjadi bahagia dan hdiup harmonis

Keberagaman senantiasa menjadi bagian dalam kehidupan seseorang sejak dulu hingga nanti. Jangan sampai perbedaan kemudian merusak kerukunan dan kebersamaan yang telah terjalin. Seseorang yang bijaksana tentulah akan berupaya menjaga kerukunan dan kebersamaan dengan mempraktikkan cinta kasih, kesabaran, kedermawanan, dan toleransi. Karena, bagaimana pun, keharmonisan adalah sumber kebahagiaan.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

 

Sumber:
Berita Dhammacakka edisi Minggu, 24 Maret 2019
Komentar via Facebook

Close

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-format="fluid"
data-ad-layout-key="-ib+c-1l-47+dr"
data-ad-client="ca-pub-3950220369927210"
data-ad-slot="4948202095"></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>