ArtikelKabar Dhamma

Belajar dari Bhikkhu Pothila, Bhikkhu Kitab Kosong yang Mencapai Kesucian

Oleh: Rendy Arifin

Meskipun hanya membaca sedikit kitab suci, namun ia melaksanakan Ajaran Dhamma
dengan sungguh-sungguh, melenyapkan pandangan keliru, nafsu raga dan kebencian,
tidak melekat pada apapun dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan yang akan datang, maka ia akan mendapat manfaat dari kehidupan dalam pasamuan para bhikkhu/petapa.
(Dhammapada – Yamaka Vagga)

 

Pasang Iklan

Pada zaman Buddha Gotama diceritakan ada seorang bhikkhu yang bernama Pothila. Ia adalah seorang bhikkhu yang sangat terpelajar dan terkenal. Ia mempunyai 18 cabang vihara. Ketika orang mendengar nama ‘Pothila’, mereka semua kagum dan tidak ada seorang pun yang berani mempertanyakan segala yang diajarkannya. Mereka begitu memujanya. Bhikkhu Pothila adalah salah satu murid dari Buddha Gotama, namun Sang Buddha biasa memanggilnya dengan ‘Tuccha’ yang artinya kosong.

Pada suatu hari ia datang untuk menghormat Sang Buddha, sewaktu ia melakukan penghormatan, Sang Buddha berkata, “Apa kabar bhikkhu kitab kosong?”

Mereka bercakap-cakap sejenak dan kemudian sewaktu Bhikkhu Pothila berpamitan, Sang Buddha berkata: “Silahkan, bhikkhu kitab kosong”. Hal tersebut dilakukan berulang-ulang oleh Sang Buddha ketika bertemu dengan Bhikkhu Pothila.

Bhikkhu Pothila merasa bingung, “Mengapa Sang Buddha berkata demikian? Apa maksudnya?” Ia berpikir keras, mengingat hal-hal yang telah dipelajari, sampai akhirnya ia menyadari, “Benar! Aku adalah bhikkhu kitab kosong – seorang bhikkhu yang belajar tetapi tidak mempraktikkan”

Ketika ia melihat dalam dirinya, ia menyadari bahwa ia tidak berbeda dari kebanyakan orang awam. Apapun yang disukai mereka, ia juga suka; apapun yang dinikmati oleh orang-orang awam, ia ikut menikmati. Tidak ada samana yang benar pada dirinya, tidak ada kualitas yang baik dalam diri untuk menuju jalan mulia dan mencapai pembebasan.

Ia memutuskan untuk berlatih, tetapi ia tidak tahu harus pergi ke mana. Semua bhikkhu yang ada di sekitarnya adalah murid-muridnya, tidak ada yang berani menerimanya sebagai murid. Biasanya ketika seseorang bertemu dengannya, mereka menjadi penakut dan penghormat, jadi tidak ada seorang pun yang berani menjadi gurunya.

Akhirnya ia pergi untuk menemui seorang samanera muda yang telah mencapai tingkat kesucian untuk meminta petunjuk. Samanera itu berkata, “Baiklah, kamu bisa berlatih bersama saya, tetapi kamu harus tulus. Jika kamu tidak tulus saya tidak akan menerimamu.”

Samanera itu kemudian menyuruh Bhikkhu Pothila untuk mengenakan jubahnya dengan lengkap. Ada tanah berlumpur di dekatnya. Ketika Bhikkhu Pothila telah mengenakan jubahnya dengan lengkap, samanera itu berkata, “Baiklah, sekarang berjalanlah di tanah berlumpur itu. Jika saya tidak menyuruh untuk berhenti, jangan berhenti. Jika saya tidak memintamu untuk meninggalkannya, jangan tinggalkan. Sekarang bersiaplah dan. jalan!”

Bhikkhu Pothila yang berjubah rapi, masuk ke dalam tanah berlumpur itu. Samanera tidak menyuruh berhenti sampai ia betul-betul rata berlumuran lumpur. Akhirnya ia berkata, “Kamu dapat berhenti sekarang” – dan Tuccha Pothila berhenti.

Ini jelas menunjukkan bahwa Bhikkhu Pothila telah meninggalkan keangkuhannya. Ia siap menerima ajaran. Walaupun ia seorang guru yang terkenal, ia mau melakukannya. Jika ia tidak siap untuk belajar, ia tidak akan mau berjalan dalam lumpur seperti itu. Samanera muda itu melihat bahwa Bhikkhu Pothila benar-benar tulus dan berniat kuat untuk berlatih.

Setelah Bhikkhu Pothila keluar dari lumpur itu dan membersihkan diri, samanera muda meminta Bhikkhu Pothila untuk mengamati pikiran dan mengenali obyek-obyek sensasi. Digunakan perumpamaan seseorang yang akan menangkap kadal yang bersembunyi dalam lubang yang bercabang. Jika lubang itu mempunyai enam jalan keluar, bagaimana caranya menangkap kadal tersebut? Tentunya dengan menutup lima jalan keluar yang lain. Dengan demikian ia hanya perlu melihat dan menunggu satu lubang. Ketika kadal itu keluar, dengan mudah ia bisa menangkapnya.

Begitu juga cara mengamati pikiran; menutup mata, telinga, hidung, lidah dan tubuh, kita hanya menyisakan pikiran. Yang dimaksud dengan menutup indera adalah menahan serta menatanya,dan hanya mengamati pikiran.

Meditasi sama seperti menangkap kadal. Kita menggunakan sati untuk mengamati nafas. Sati adalah kualitas perenungan, sama halnya seperti bertanya pada diri sendiri, “Apa yang saya lakukan?” Sampajañña adalah kesadaran bahwa ‘saat ini saya sedang melakukan ini dan itu’. Kita mengamati nafas yang masuk dan keluar dengan menggunakan sati dan sampajañña.

Kemanapun ia pergi, kesadaran selalu mengikuti pikiran Bhikkhu Pothila. Ia mengamati berbagai macam variasi ciptaan dan percabangan pikiran dengan pengertian. Ia melihat bagaimana pikiran menipu dengan berbagai cara. Baik dan jahat, semua karena pikiran ini. “Tuccha Pothila” menyadari kebenaran dan menangkap inti dari latihan seperti seseorang yang menangkap kadal. Ia melihat cara kerja pikiran yang diselubungi oleh khayalan. Dan pada akhirnya ia mencapai tingkat kesucian Arahat.

Dalam Dhammacariya Sutta, Buddha Gotama juga menjelaskan tentang kehidupan yang baik dari seorang bhikkhu. Bukan hanya belajar secara teoritis, tetapi praktik dengan tekun. Sang Buddha juga menyarankan agar para bhikkhu menghalau hal-hal yang dapat membuat mereka menyeleweng dari kehidupan suci.

1.    Jika orang meninggalkan kehidupan berumah tangga, menjadi pertapa dan menjalani kehidupan selibat dan murni; inilah permata yang paling berharga. (274)
2.    Tetapi jika secara alami dia terlalu banyak bicara, dan senang menyakiti yang lain secara kasar, kehidupan orang seperti ini menjadi tidak bermanfaat dan kekotoran batinnya meningkat. (275)
3.    Seorang bhikkhu yang senang bertengkar karena dikelabuhi kebodohan batin, sekalipun dijelaskan ia tak akan memahami ajaran yang dibabarkan Sang Buddha. (276)
4.    Karena dikuasai oleh kebodohan batin, dia tidak memahami bahwa menyakiti orang yang pikirannya terkendali dengan baik merupakan tindakan salah yang menyebabkan dia pergi ke alam menyedihkan. (277)
5.    Bhikkhu seperti itu pasti akan mengalami kesengsaraan setelah kematian, karena menuju ke alam-alam menderita dari satu kelahiran ke kelahiran lain, dari kegelapan menuju kegelapan [yang lebih pekat]. (278)
6.    Bagaikan kubangan yang dipenuhi kotoran selama ratusan tahun, orang tak murni seperti itu sulit disucikan. (279)
7.    O, para bhikkhu, jika engkau mengenal orang yang melekat pada kehidupan duniawi, yang memiliki nafsu-nafsu tak luhur, niat-niat tak bersih, dan perilaku jahat. (280)
8.    Asingkan dan buanglah dia, semuanya sepakat; bagaikan debu, sapulah dia keluar, bagaikan sampah, singkirkanlah dia. (281)
9.    Kemudian singkirkan mereka yang kosong, yang bukan bhikkhu tetapi berpura-pura menjadi bhikkhu; tolaklah mereka yang memiliki kecenderungan watak yang tidak baik, yang telah disebutkan di depan. (282)
10.  Tetaplah murni, dan bergaullah dengan yang murni; dengan selalu waspada, terpusat dan meningkat; akhirilah penderitaan. (283)

 

Referensi:

  • http://truthbuddha.blogspot.com/2012/03/tuccha-pothila-bhikkhu-kitab-kosong.html
  • https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/dhammacariya-sutta/
  • https://pustaka.dhammacitta.org/ebook/umum/hidup-sesuai-dhamma.pdf

 

Komentar via Facebook

Close