ArtikelKabar Dhamma

Apakah Saya Termasuk Manusia Sampah?

Oleh: Rendy Arifin

Manusia berasal dari kata Mano yang memiliki pengertian pikiran, kesadaran atau dalam hal ini adalah batin; dan Ussa memiliki pengertian yang telah maju atau berkembang dan maju. Jadi bisa dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran dan kesadaran untuk berkembang. Di dalam ajaran Buddha, terlahir sebagai manusia merupakan buah kamma baik yang sangat luar biasa karena Buddha menjelaskan sungguh sulit terlahir sebagai manusia. Diumpamakan seperti kura-kura buta di tengah samudera yang naik ke permukaan setiap seratus tahun sekali dan harus memasukkan kepalanya ke dalam gelang yang mengambang di permukaan samudera tersebut.

Jenis-Jenis Manusia

Pasang Iklan

Menurut pandangan agama Buddha, manusia dibedakan menjadi empat tipe, yaitu:

  1. Manusia binatang

Ciri khasnya manusia ini adalah dipenuhi dengan kebodohan batin (moha), tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, tidak berbakti pada orangtua, keras hati, sombong, hanya menuruti hawa nafsu keinginan.

  1. Manusia setan

Ciri khasnya manusia ini adalah selalu diliputi oleh keserakahan (lobha), kikir,
tidak pernah puas, hanya memikirkan keuntungan diri sendiri, tidak mengenal kebaikan, senang memuaskan nafsu inderanya saja.

  1. Manusia seutuhnya

Ciri khasnya manusia ini adalah senang membantu orang lain yang menderita, tidak kikir, memiliki hiri dan ottapa, hidup yang berpedoman kepada Dhamma.

  1. Manusia dewa

Manusia ini selalu suka membantu orang lain yang menderita, memiliki pe-ngendalian diri (sīla), metta, karuna, mudita, upekkhapañña yang sangat kuat.

 

Di dalam Anguttara Nikaya dijelaskan bahwa ada empat jenis atau tingkatan manusia yang diumpamakan seperti empat tingkatan bunga teratai di bawah ini:

  1. Para jenius (ugghatitaññu)

Para jenius menunjukkan macam manusia yang dapat memahami ajaran hanya dengan mendengarkan pokok ajaran. Jenis ini dapat dibandingkan dengan bunga teratai yang telah muncul di atas permukaan air dan pasti akan mekar pada sinar fajar hari yang pertama. Suatu contoh dapat dilihat dalam hal Bhikkhu Sariputta Thera, Petapa Bahiya, Samanera Sankicca dan beberapa lainnya lagi yang dengan segera mencapai penerangan sempurna sewaktu mendengarkan syair-syair yang pertama.

  1. Para intelektual (vipacitaññu)

Manusia jenis kedua dengan tingkat kebijaksanaan yang lebih rendah adalah disebut para intelektual, yang memerlukan keterangan dan uraian lebih jauh sebelum mereka dapat mencapai Penerangan Sempurna. Contoh dari jenis ini adalah lima orang petapa dan rombongan seribu petapa penyembah api yang dipimpin oleh Uruvela Kasapa. Mereka dapat dibandingkan dengan bunga-bunga teratai yang masih berada di bawah permukaan air, sedang menunggu untuk muncul di atas permukaan air pada hari berikutnya.

  1. Mereka yang dapat dilatih(neyya)

Mereka yang dapat dilatih menunjukkan mayoritas manusia biasa (yang tidak begitu bodoh tetapi juga tidak begitu bijaksana). Orang-orang ini memerlukan instruksi-instruksi dan uraian-uraian serta suatu jangka waktu latihan dan praktek sebelum mereka dapat mengharapkan suatu kemajuan atau perkembangan yang nyata. Mereka dapat dibandingkan dengan bunga teratai yang masih berada agak jauh di bawah permukaan air. Mereka memerlukan suatu jangka waktu lebih lama untuk pertumbuhan dan kemunculan mereka di atas permukaan air.

  1. Mereka yang tidak dapat dilatih (padaparama)

Mereka yang tidak dapat dilatih atau tidak ada harapan adalah mereka yang tidak mungkin mengerti atau maju dalam masa kehidupan ini. Mereka dapat mendengarkan ajaran-ajaran atau mencoba untuk mempraktekkan sesuai dengan perintah-perintah, tetapi karena keterbelakangan atau kebutaan batin mereka, tidak ada hasilnya yang dapat diharapkan. Mereka adalah seperti bunga teratai yang dimakan habis oleh binatang air, tidak mempunyai harapan untuk tumbuh di atas permukaan air.

Manusia Sampah

Manusia sampah adalah manusia yang perilakunya jauh dari moralitas. Istilah lain adalah orang yang merosot moralnya. Mereka lebih cenderung selalu melakukan tindakan kejahatan kepada orang lain. Adapula kelompok dengan memiliki paham untuk menghancurkan orang lain demi mencapai tujuan yang diharapkan. Buddha pun menjelaskan tentang manusia sampah dalam Vasala-Sutta kepada Brahmana Aggika-Braradvaja:

  1. Siapa pun yang marah, yang memiliki niat buruk, yang berpikiran jahat dan iri hati; yang berpandangan salah, yang penuh tipu muslihat
  2. Siapa pun yang menghancurkan kehidupan, baik burung atau binatang, serangga atau ikan, yang tidak memiliki kasih sayang terhadap kehidupan
  3. Siapa pun yang merusak atau agresif (suka menyerang) di kota dan di desa dan dikenal sebagai perusak atau penjahat yang kejam
  4. Siapapun yang mencuri apa yang dianggap milik orang lain, baik yang ada di desa atau hutan
  5. Siapapun yang setelah berhutang lalu menyangkal ketika ditagih, dan menjawab pedas: ‘Aku tidak berhutang padamu!
  6. Siapa pun yang berkeinginan mencuri walaupun benda tidak berharga, lalu mengambil barang itu setelah membunuh orang di jalan
  7. Siapapun yang memberikan sumpah palsu untuk kepentingannya sendiri, untuk kepentingan orang lain, atau untuk mendapat keuntungan
  8. Siapapun yang mempunyai hubungan gelap dengan istri famili atau temannya, baik dengan paksaan atau karena suka sama suka
  9. Siapapun yang tidak menyokong ayah atau ibunya, yang sudah tua dan lemah, padahal dia hidup dalam keadaan berkecukupan
  10. Siapa pun yang menyerang atau mencaci-maki ayah, ibu, saudara kandung, atau ibu mertua
  11. Siapapun yang dimintai nasihat yang baik tetapi malahan mengajarkan apa yang menyesatkan atau berbicara dengan tidak jelas
  12. Siapapun yang munafik, yang setelah melakukan pelanggaran kemudian ingin menyembunyikannya dari orang-orang lain
  13. Siapapun yang setelah berkunjung ke rumah orang lain dan menerima keramah-tamahan di sana, tidak membalasnya dengan sikap serupa
  14. Siapapun yang menipu pertapa, bhikkhu atau guru spiritual lain
  15. Siapapun yang mencaci-maki dan tidak melayani pertapa atau bhikkhu yang datang untuk makan
  16. Siapapun, yang karena terperangkap di dalam kebodohan, memberikan ramalan yang tidak benar demi keuntungan yang sebenarnya tak berharga
  17. Siapapun yang meninggikan dirinya sendiri dan merendahkan orang lain, pongah dalam kesombongannya
  18. Siapapun yang suka memicu pertengkaran, yang kikir, memiliki keinginan-keinginan jahat, iri hati, tidak tahu malu dan tidak menyesal kalau melakukan kejahatan
  19. Siapa pun yang menghina Sang Buddha atau siswa-siswanya, baik yang telah meninggalkan keduniawian maupun perumah-tangga biasa
  20. Siapa pun yang berpura-pura Arahat padahal sebenarnya bukan, dia benar-benar penipu hina terbesar di dunia ini, sampah terendah dari semuanya. Demikian telah kujelaskan siapa yang merupakan sampah.
  21. Bukan karena kelahiran orang menjadi sampah. Bukan karena kelahiran pula orang menjadi brahmana (mulia). Oleh karena perbuatanlah orang menjadi sampah. Oleh karena perbuatan pula orang menjadi brahmana
  22. Kini dengarkanlah, akan kuberikan suatu contoh. Ada seorang anak laki-laki dari kasta rendah yang bernama Matanga dari kasta Sopaka.
  23. Dia mencapai puncak kejayaan. Dan sesudah itu, para ksatria, brahmana, dan orang-orang lain datang untuk melayaninya.
  24. Setelah menghancurkan nafsu-nafsu duniawi, dia memasuki Jalan Mulia dan mencapai alam Brahma. Kasta tidak dapat mencegahnya terlahir di alam surgawi.
  25. Para brahmana yang mengenal Veda dengan baik dan terlahir di keluarga yang hafal Kitab Veda, jika mereka kecanduan melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Mereka bukan hanya ternoda di dalam kehidupan ini saja; di dalam kehidupan yang akan datang pun mereka akan terlahir di dalam keadaan yang menderita. Kasta tidak dapat mencegah mereka ternoda atau terlahir di dalam keadaan yang menderita.

Sudah seharusnya kita bersyukur terlahir sebagai manusia bahkan dapat mengenal ajaran Buddha. Bukan sebaliknya, sudah terlahir sebagai manusia tapi tidak menjaga moralitas dan menjadi manusia sampah. Apakah kamu mau menjadi manusia sampah? Atau kamu sedang atau pernah menjadi manusia sampah? Segera perbaikilah! Latihlah Dana, Sila, dan Samadhi  dengan baik.

 

Referensi:

Komentar via Facebook

Close