ArtikelKabar Dhamma

Alasan Adanya Penguasa dan Kaum Tertindas

Oleh: Jesslyn Metta

Familiarkah Anda dengan guyonan berikut?

Pasang Iklan

Saya yakin banyak dari Anda semua setuju dengan meme di atas. Namun, jika kita telaah lebih jauh, ada banyak kejadian serupa yang tidak hanya terjadi di lingkungan kampus. Lingkungan pekerjaan, lingkungan organisasi, bahkan lingkungan keluarga sekalipun pasti dapat kita temukan ketidakadilan seperti meme di atas.

Meme di atas menunjukan secara jelas bahwa ada peran Power/kekuatan yang menjadikan pihak tertentu berada di bagian ‘selalu benar’ dan pihak lain berada di bagian ‘selalu salah’. Power tidak hanya dapat dimiliki oleh individu, namun juga suatu kelompok/organisasi. Power dapat digunakan untuk mengatur atau mengontrol hal yang menguntungkan pihak tertentu.

Untuk dapat memahami bagaimana cara seseorang dapat memiliki kuasa lebih daripada orang lain, kita perlu menganalisa apa saja yang menjadikan orang tersebut berkuasa. Hal ini yang disebut sebagai Source of Power/Sumber Kekuasaan. Sumber kekuasaan didapatkan dari 2 sumber, yakni faktor eksternal dan faktor internal.

Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kuasa seseorang contohnya adalah:

  1. Uang/Kekayaan

Kekayaan tentu dapat menjadikan seseorang berada 1 tingkat di atas orang lain, dimana dengan uang dan kekayaannya, banyak hal yang dapat diraih dan menjadikannya semakin berpengaruh.

  1. Jabatan

Jabatan memiliki peran krusial pada setiap hal. Contoh terkecil yang dapat diambil adalah peran ayah di keluarga sebagai pengambil keputusan final, bos pada suatu perusahaan, pemimpin agama, hingga orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan yang menggunakan jabatan demi kepentingan pribadi atau golongannya.

  1. Usia

Usia juga merupakan faktor seseorang dapat memiliki kekuatan lebih. Orang yang lebih tua relatif lebih dipercaya dan dihormati daripada orang yang lebih muda secara usia.

  1. Suku/Ras

Di beberapa tempat, tentu kita pasti akan menemui kelompok suku atau ras yang lebih mendominasi suatu wilayah sehingga hukum maupun norma yang berlaku tercipta untuk mendukung kepentingan golongan suku/ras tertentu. Contoh: Hukum perbudakan di Amerika Serikat yang sangat menguntungkan untuk ras Kaukasia dan sangat menekan kaum kulit hitam.

  1. Agama

Agama dapat menjadi salah satu sumber kekuatan, dimana nilai-nilai agama tersebutlah yang banyak diterapkan di wilayah dimana agama tersebut banyak dianut.

  1. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan orang yang lebih tinggi cenderung mudah mendapatkan kerja di posisi strategis, dibandingkan dengan orang-orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah.

Beberapa contoh lain dari SoP eksternal adalah lokasi tempat tinggal, kemampuan fisik, penampilan fisik, orientasi seksual, status sosial, dan sebagainya.

Adapun faktor internal berupa kepercayaan diri, kesehatan mental, dan spiritual.

Semakin banyak source of power yang dimiliki oleh suatu individu ataupun kelompok, semakin banyak kesempatan, kemudahan, dan hak-hak istimewa yang dapat diraih. Begitupun sebaliknya, semakin sedikit source of power yang dimiliki, maka akan semakin kecil peluang yang dimiliki untuk menjadi lebih baik dan lebih berpotensi menjadi pihak yang tertindas. Namun, memiliki banyak sumber kekuatan tidak selalu berkonotasi negatif, semua kembali pada cara kita menggunakan source of power yang kita miliki.

Ada 3 tipe power dilihat dari cara kita menggunakannya yaitu sebagai berikut.

  1. Power Over

Power Over adalah kondisi dimana seseorang/kelompok menggunakan sumber-sumber kekuatan yang mereka miliki untuk menindas, mengeksploitasi, mengambil keputusan dari pihak lain yang lebih lemah daripadanya.

Contoh: Ayah sebagai kepala keluarga menjadi pihak utama yang berhak mengambil keputusan atas segala masalah, orang tua terhadap anaknya, kakak terhadap adiknya, pemerintah membuat peraturan tanpa melibatkan rakyat, hingga dalam skala global pun kita dapat melihat bagaimana negara barat berlomba-lomba untuk mengeksploitasi negara timur.

  1. Power Sharing

Power Sharing adalah kondisi dimana seseorang/kelompok menggunakan sumber kekuatannya untuk membantu,  men-support, atau membuat keputusan dengan orang lain atau kelompok lain. Di sinilah nilai demokrasi dan transparansi sangat dijunjung tinggi antara kedua belah pihak, sehingga dalam setiap pengambilan keputusan, tidak ada pihak lain yang merasa dirugikan karena keputusan telah terbentuk untuk mengakomodasi kebutuhan semua pihak.

Contoh: Ayah dan Ibu mengikutsertakan anak dalam pengambilan keputusan di keluarga, pengambilan keputusan yang kolektif di ranah organisasi, pemerintah yang memperbolehkan rakyatnya untuk turut memberikan masukan terkait undang-undang yang akan dibuat yang dapat mempengaruhi semua orang.

  1. Powerwithin

Power Within adalah sumber kekuatan yang berasal dari dalam, yang dimiliki oleh individu maupun kelompok yang dapat dikembangkan untuk membantu mereka mengatasi rasa takut, rasa tertindas, kekerasan, dan memberikan respon terhadap kejadian-kejadian buruk yang menimpa mereka secara damai dan tanpa kekerasan. Contoh dari power within adalah kepercayaan diri, integritas, etika, kebijaksanaan, keberanian, ketenangan, welas asih dan cinta damai, kesabaran, sifat pemaaf, cinta kasih, dan sebagainya.

Sebagai contoh, kita coba kembali membahas meme di awal tulisan ini (karena kebetulan posisi saya juga sebagai seorang mahasiswa saat ini). Ketika dosen berlaku seenaknya atau ketika kita merasa tertekan akibat seorang dosen, kita harus paham bahwa perilaku yang beliau lakukan adalah BUKAN bagian dari kepribadiannya. Kita harus bisa menganalisa kira-kira apa yang menyebabkan beliau berlaku demikian.

Sebagai contoh:

  • Dosen merupakan sebuah jabatan, yakni sebagai tenaga pengajar di Universitas.
  • Usia yang lebih tua menjadikannya ‘merasa’ lebih berpengalaman (terlepas dari benar tidaknya asumsi tersebut)
  • Dosen memiliki hak untuk menentukan kelulusan mahasiswa pada mata kuliahnya, hal ini kembali lagi ke jabatannya.
  • Pengalaman, selama ini mungkin tidak pernah ada pihak yang berani mengutarakan pendapatnya mengenai perilaku beliau, sehingga beliau akan menganggap bahwa apa yang dilakukannya lumrah dan tidak menyakiti pihak manapun.

Sekarang, coba kita analisa kembali apakah Anda memiliki pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan penggunaan Power Over dalam kehidupan pribadi maupun sosial? Saya berani jamin bahwa banyak permasalahan di masyarakat terjadi akibat budaya penggunaan Power Over.

Budaya power over juga biasa disebut sebagai patriaki/budaya dominansi laki-laki karena jika kita kembali melihat, semua pemangku jabatan di berbagai institusi diisi oleh laki-laki yang memiliki kuasa (meskipun perempuan juga tidak dapat dipungkiri dapat berlaku sama ketika berada di posisi utama tersebut). Budaya patriaki ini telah tertanam begitu dalam ke dalam diri kita sendiri sejak lama, sehingga kita pun menjadi tumbuh dan berkembang dengan pemahaman bahwa satu-satunya cara untuk menggunakan kekuatan/power yang kita miliki adalah dengan menggunakannya atas orang lain, atau sebaliknya, kita menjadi pribadi yang percaya dan menerima begitu saja ketika ada pihak lain yang menggunakan kekuatannya untuk menekan kita.

(Tulisan ini merupakan hasil belajar dari workshop yang dilakukan oleh Ouyporn Khuankaew, seorang aktivis, feminis dan praktisi dari Thailand yang sudah puluhan tahun berkeliling dunia untuk mengajarkan banyak hal khususnya terkait persoalan seputar dunia aktivis maupun aktivis Buddhis pada umumnya. Beliau berkesempatan untuk hadir pada kegiatan International Young Bodhisattva Training yang diadakan oleh INEB pada awal Mei 2019 lalu.)

Komentar via Facebook

Close

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-format="fluid"
data-ad-layout-key="-ib+c-1l-47+dr"
data-ad-client="ca-pub-3950220369927210"
data-ad-slot="4948202095"></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>