ArtikelKabar Dhamma

Aku Ada Maka Aku Tidak Ada

Oleh : Bhikkhu Ratanadhiro

“Aku berpikir maka aku ada” (cogito ergo sum) adalah sebuah ungkapan yang lahir dari seorang filsuf asal Perancis bernama René Descartes. Ungkapan ini mengandung pemikiran yang realistis tentang terjadinya sesuatu atau suatu keadaan yang dipikirkan oleh diri sendiri tentang benar atau tidaknya sesuatu tersebut. Sebuah contoh yang sederhana barangkali dapat memudahkan pemahaman yang terkesan utopis. Semua murid di dalam suatu kelas sedang mengadakan presentasi pelajaran dan diawasi oleh seorang guru. Lalu sebagian murid yang cerdas dengan mudah memberikan argumen atau pendapatnya, sehingga mereka dianggap eksis (baca : ada). Namun, beda halnya dengan para murid yang diam membisu dan enggan mengutarakan pendapatnya, meskipun mereka hadir di kelas tetapi eksistensinya tidak dirasakan (baca : tidak ada).

Pemikiran ini membuat René Descartes sering disebut sebagai bapak filsafat modern. Banyak buah pikirannya yang revolusioner, dan mungkin ungkapan ini yang menjadikannya begitu terkenal. Semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Hal ini juga membuktikan keterbatasan manusia dalam berpikir dan mengakui sesuatu yang berada di luar kemampuan pemikiran manusia.

Pasang Iklan

Dalam pandangan buddhis, pemikiran ini tidaklah sepenuhnya salah hanya saja masih belum lengkap. Manusia memang terdiri dari batin (nāma) dan jasmani (rūpa), tetapi semuanya tidak dapat dikatakan “ada” karena bersifat timbul dan tenggelam (udaya-vaya) dan tidak terlepas dari kehancuran (khaya). Lebih dari itu, semua makhluk hanya terdiri dari kumpulan 5 gugusan kehidupan ¹(pancakhandha). Sebagaimana kereta dapat disebut kereta karena kumpulan dari banyak bagian, demikian pula makhluk hidup disebut sebagai makhluk hidup karena terdiri dari 5 gugusan kehidupan. Tidak ada yang disebut diri di dalamnya karena setiap gugusan juga bersifat muncul dan lenyap.

Buddha menolak pandangan adanya inti yang kekal (atta). Segala sesuatu tidak dapat dianggap sebagai inti yang kekal karena bersifat muncul dan lenyap. Apa yang tidak kekal akan menimbulkan penderitaan. Apa yang tidak kekal dan menimbulkan penderitaan tidak dapat dianggap sebagai ini milikku, ini aku, ini diriku (etaṃ mama, esohamasmi, eso me atta). Anattalakkhaṇa Sutta menerangkan bahwa seseorang tidak pantas menganggap batin dan jasmani kekal adanya karena orang tersebut tidak dapat mengontrolnya. Tidak mungkin dan tidak akan mungkin bila seseorang menginginkan, “Semoga jasmani ini selalu sehat dan kekal selamanya” karena usia tua, panyakit, dan kematian pasti akan datang menghampirinya.

Melihat dan mengetahui segala sesuatu adalah tanpa diri (anatta) membutuhkan penyadaran yang mendalam. Dalam Girimānanda Sutta, Buddha menasihati muridnya untuk mengembangkan persepsi tanpa diri (anattasaññā) dengan melihat setiap gugusan sebagai fenomena tanpa diri. Praktik ini sangat diperlukan karena segala bentuk pandangan salah yang membuat seseorang terus mengembara di alam kelahiran disebabkan oleh kecenderungan adanya diri.

Buddha menganjurkan untuk senantiasa menyadari dan merenungkan, serta mencoba untuk menyelesaikan semua masalah yang muncul dengan benar. Inilah latihan yang harus dilakukan setiap saat. Banyak orang tidak melihat penderitaan sebagai kebenaran. Jika menyelami kebenaran, maka penderitaan akan dapat diketahui. Apabila ajaran Buddha dirangkum menjadi satu poin penting, maka semuanya bermuara pada penderitaan dan lenyapnya penderitaan, seperti yang tercatat dalam Anurādha Sutta.

Pada hakikatnya, mempelajari dan mempraktikkan meditasi hanya untuk mengetahui dan mengakhiri penderitaan. Ketika penderitaan lenyap, kedamaian akan muncul. Hal ini dapat dialami di sini dan saat ini juga dengan menyadari fenomena hanya sebagai fenomena tanpa adanya perasaan di dalamnya. Saat melihat hanya melihat. Mendengar hanya mendengar. Mencium bau hanya mencium bau. Mengecap hanya mengecap. Sentuhan hanyalah sentuhan. Sadari bentuk-bentuk pikiran yang muncul. Artinya, semua aktivitas tersebut dilakukan tanpa ada “aku” di dalamnya. Jika seseorang mampu mencapai tahap ini, konsep “aku” yang ada di dalam dirinya akan hilang. Ketiadaan konsep “aku” inilah yang dimaksud dengan lenyapnya penderitaan.

Pengembangan batin melalui meditasi memang dapat memunculkan ketenangan, namun sesungguhnya ketenangan itu akan selalu berubah dan tidak dapat dipertahankan. Apabila seseorang bermeditasi hanya demi ketenangan semata, pada akhirnya ia akan bertemu dengan kekecewaan. Tujuan dan cara meditasi yang tertinggi adalah kesadaran, melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, menyadari segala bentuk penderitaan yang muncul dan berusaha untuk melenyapkannya.

Kebahagiaan sejati sesungguhnya tidak usah dicari. Terlalu berusaha untuk menjadi bahagia malah akan menderita. Kuncinya adalah melihat ke dalam. Dalam Rohitassa Sutta, filsafat ajaran Buddha terdapat pada badan jasmani ini sendiri. Buddha dengan tegas menyatakan bahwa dalam tubuh yang panjangnya tidak lebih dari satu depa² ini, bersama dengan pencerapan dan buah pikirnya, terdapat dunia, asal dunia, akhir dunia, dan jalan yang membawa pada akhir dunia. Istilah dunia merujuk pada penderitaan. Siapa pun yang dapat memahami bahwa tubuh ini adalah awal dan akhir dari penderitaan, segala sesuatu dilakukan tanpa adanya keakuan sebagai pengiring.

Esensi dari kebahagiaan sejati adalah menemukan ketenangan dalam diri sendiri. Ketenangan ini harus ditemukan dalam batin, tidak di tempat lain. Jika seseorang tenang di dalam, maka tidak akan dapat ditemukan suatu diri di mana pun juga. Kondisi batin yang tenang berarti selalu sadar sepenuhnya dan dapat menerima kenyataan yang ada, tidak mengejar kesenangan apa pun, tidak memiliki ikatan apa pun, dan telah melampaui pandangan apa pun. Penyadaran segala sesuatu sebagaimana yang telah terjadi tanpa memberikan penilaian merupakan kunci untuk hidup tenang dan damai. Ketika tidak ada ego yang menggerakkan maka yang ada hanyalah kedamaian tanpa ketergantungan. Kedamaian tanpa syarat yang membawa pada jalan pembebasan.

 

¹Gugusan materi (rūpakhandha), gugusan perasaan (vedanākhandha), gugusan persepsi (saññākhandha), gugusan bentuk-bentuk pikiran (saṅkhārakhandha), dan gugusan kesadaran (viññāṇakhandha)

²Satuan panjang yang diukur dari jarak antara ujung jari tangan kanan dengan ujung jari tangan kiri ketika kedua lengan direntangkan. Panjang ini setara dengan tinggi badan manusia menurut antropometri “Vitruvian Man” karya Leonardo da Vinci.

Komentar via Facebook

Close