ArtikelKabar Dhamma

Agama Buddha – India atau Nepal, Keunikan Waisak dan Penghormatan dari dalam Rumah

Oleh: Andhika Mustika

Sejarah mencatat bahwa Pangeran Siddharta lahir di Taman Lumbini distrik Kapilavastu negara Nepal yang merupakan salah satu tempat suci Agama Buddha. Siddharta merupakan pangeran kerajaan Kapilavastu dari suku Sakya, meski berbatasan dengan India, Kapilavastu masuk wilayah negara Nepal.

3 tempat suci agama Buddha lainnya yaitu Taman Rusa Isipatana di kota Sarnath (dahulu Benares) negara bagian Uttar Pradesh; Buddhagaya (Bodhgaya) terletak di distrik Gaya, negara Bagian Bihar; dan Kusinara yang merupakan sebuah kota dan Nagar Panchayat di distrik Kushinagar, negara bagian Uttar Pradesh, yang semuanya berada di negara India.

Pasang Iklan

Meski Taman Lumbini (Nepal) merupakan tempat lahir Pangeran Siddharta, namun Bodhgaya merupakan tempat Siddharta mencapai ke-Buddhaan dan terbentuknya Sangha pertama kali, yang menandakan lahirnya agama Buddha di India. Ini dapat menjadi alasan agama Buddha dikenal berasal dari negara India, mengacu dari lahirnya agama Buddha (Siddharta menjadi Buddha dan terbentuknya Sangha) bukan dari lahirnya Pangeran Siddharta yang belum menjadi Buddha, selain karena hingga tahun 2006 Nepal dikenal sebagai satu-satunya kerajaan Hindu di dunia.

Namun bagaimana pun umat Buddha menilai, ketika melakukan dharmayatra mengunjungi semua tempat suci agama Buddha, maka akan mengunjungi negara India dan juga Nepal. Tentu ada bentuk perjanjian antar kedua negara sehingga terjalin kerjasama tersebut, seperti perjanjian Perdamaian dan Persahabatan India-Nepal tahun 1950 yang mengatur perdagangan bilateral dan perdagangan melewati kawasan India.

Hanya saja saat ini, pelaksanaan dharmayatra belum dapat dilakukan karena virus Corona belum mereda dan tuntas. Bahkan dikabarkan akan muncul virus Corona gelombang kedua. Segala aktivitas keagamaan yang menyangkut orang banyak dan aktifitas bepergian, sementara dihentikan demi keselamatan banyak manusia. Demikian halnya dengan perayaan waisak yang jatuh tanggal 7 Mei 2020 (di Indonesia), merupakan perayaan besar umat Buddha untuk memperingati kelahiran, pencapaian penerangan sempurna dan Parinibbana-nya Buddha. Perayaan waisak tahun ini, belum dapat dilakukan secara bersama dan berkumpul pada satu tempat, melainkan dilakukan dengan pemanfaatan teknologi secara mandiri.

Di negara Thailand yang mayoritas umat beragama Buddha, setelah berdoa bersama dan mendengar ceramah sangha, menempelkan daun emas dan mengitari patung Buddha. Pada puncak acara waisak, Bhikkhu akan berjalan mengelilingi patung Big Buddha sambil membawa lilin. Di Jepang memiliki tradisi sendiri yaitu membuat replika kuil dengan hiasan bunga musim semi, lalu menempatkan patung Buddha di atasnya. Perayaan Hanamatsuri ini, dikenal sebagai festival Bunga dan untuk memperingati ulang tahun Buddha. Dalam festival di musim semi ini, orang-orang akan menggunakan kimono ketika datang mengunjungi kuil.

Sedangkan India dan Nepal, yang perayaan waisak dikenal sebagai Buddha Purnima atau Buddha Jayanti, merayakan waisak dengan menggunakan baju putih, melakukan diet vegetarian dan mengkonsumsi kheer (puding beras) sebagai lambang bubur yang dipersembahkan Sujata kepada Buddha. Di Singapura, punya tradisi membebaskan burung atau binatang liar sebagai lambang tindakan pembebasan.

Gambar 1. Perayaan Waisak di India dan Nepal

Korea Selatan yang disebut Seokka Tanshin-il dan Bucheonim osin nal tidak kalah menarik dengan menggantungkan lentera warna-warni berbentuk lotus sebelum perayaan, mengadakan tarian topeng dan pertunjukkan akrobatik. Mengadakan parade lentera yang megah, menulis nama dan harapan pada lentera. Juga mengkonsumsi makanan vegetarian tanpa bawang merah, bawang putih maupun cabai.

Gambar 2. Perayaan Waisak di Korea Selatan

 

Di Kamboja, para Bhikkhu melakukan parade dengan menaiki kendaraan bermotor yang didesain memiliki bagian belakang lebar dan terbuka untuk duduk para bhikkhu. Biasa bhikkhu yang ikut dalam satu kendaraan mencapai 15 orang dengan membawa bendera buddhis, bunga teratai, lilin dan dupa.  Penduduk kamboja berdiri dipinggir jalan, menyaksikan iringan tersebut sambil memberi persembahan.

Gambar 3. Peryaan Waisak di Kamboja

 

Perayaan Saga Dawa di Tibet biasa dilakukan dengan berdiri di sebuah Tangka yaitu gambar gulungan (gambar Buddha) yang merupakan karya seni yang dihiasi kain sutra berwarna dan biasa berbentuk persegi panjang dengan ukuran berbeda.

Festival Kason menjadi perayaan sekaligus pengingat kehidupan inti Buddha dari kelahiran, pencerahan dan Paranibana. Partisipan festival ini, membawa pot atau kendi yang terbuat dari tanah liat dan berisi air dari kuil, melakukan parade keliling dan menyiram airnya ke pohon Bodhi, diiringi musik dan sajian hidangan lokal.

Hanya saja, segala keunikan dan kemeriahan tersebut, tidak dapat dilakukan di tahun ini sebagai bentuk kepatuhan pada negara dan keselamatan dunia. Sejak virus Corona menyebar, berbagai aktivitas masyarakat terbatasi bahkan terhenti. Dikabarkan efek dari penyebaran virus ini sangat besar, menurunkan perekonomian dan meregut banyak korban jiwa. Virus yang dikatakan berasal dari Wuhan China ini, telah menyebar ke seluruh dunia dan menjadikan dunia seolah lumpuh. Cara untuk menghentikan penyebaran virus ini dengan menjaga jarak, menjaga kondisi tubuh dan menghentikan aktivitas diluar rumah. Syarat yang sederhana namun sangat sulit dilakukan.

(Baca juga: Bisnis Online, Transaksi Online, hingga Waisak Online )

Dalam kondisi adanya virus ini, kita tetap dapat memberi penghormatan kepada Buddha yaitu melaksanakan waisak dengan memanfaatkan teknologi dan dirumah aja. Seperti umat Buddha di Thailand, merayakan Waisak tahun ini dengan tidak berkumpul di kuil melainkan tinggal di rumah menyaksikan ibadah online.

Gambar 4. Peryaan Waisak Online di Thailand

Buddha pernah menyampaikan bagaimana cara menghormati Buddha, yaitu dengan menjalankan dhamma.

“Bhikkhu, bhikkhu, upasaka, upasika mana pun yang bertindak sesuai Dhamma, hidup lurus dalam Dhamma, berjalan dalam jalan Dhamma, oleh orang seperti itulah Tathagata dihargai, dijunjung, disanjung, dipuja, dan dihormati, dalam tataran tertinggi.” (Digha Nikaya 16)

Dengan tidak merayakan waisak seperti biasa, bukan tidak dapat memberi penghormatan pada Buddha. Selama kita masih menjalankan dhamma, selama itu kita masih menghormati Buddha.

Perayaan waisak mandiri secara online ini, dilakukan untuk memutuskan rantai penyebaran virus corona, dengan harapan tahun depan kita semua umat Buddha dapat kembali meneruskan tradisi dan perayaan unik dari waisak, tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh Dunia. Sungguh menyenangkan bila perayaan Waisak kembali dirayakan seluruh umat Buddha dengan ritual dan tradisi serta keunikan masing-masing. Perayaan yang berbeda pada tahun ini, tidak berarti dibanding ribuan perayaan ditahun-tahun selanjutnya.

Maka dari itu, mari putus rantai covid-19, jangan membuat ‘dia’ menghentikan berbagai aktivitas kita lebih lama lagi. Ayo kita kondisikan agar tahun depan menjadi perayaan waisak yang lebih menyenangkan.

Salam Bahagia untuk Semua.

Mari merayakan Waisak di Rumah Aja.

Semoga Covid-19 segera berlalu.

Semoga Semua Makhluk Berbahagia

Sadhu…. Sadhu…. Sadhu….

Namo Buddhaya…

Komentar via Facebook

Close