ArtikelKabar Dhamma

Ada yang Beda dengan Waisak Tahun ini

Oleh: Manggala Wiriya Tantra

2564 (dua ribu lima ratus enam puluh empat) tahun yang lalu Buddha Gautama Maha Parinibbana menghembuskan nafas terakhirnya, para dewa dan manusia pun sangat berduka saat itu. Kelahiran seorang Buddha merupakan sebab kebahagiaan, namun kepergianNya pun tentu saja menyebabkan ratapan. Sebagaimana fakta kehidupan, berkumpul dengan orang yang dicinta pastilah membahagiakan, namun jika akhirnya berpisah, maka terbitlah kesedihan.

Setiap tahun umat Buddha di seluruh pelosok bumi ibu pertiwi merayakan Hari Raya Waisak untuk memperingati 3 peristiwa agung, yakni Kelahiran Pangeran Siddharta, Tercapainya Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan Sang Buddha Gautama Parinibbana. Biasanya di setiap tempat perayaan Waisak disambut dengan meriah, namun kali ini ada yang berbeda,  cukup di rumah saja.

Pasang Iklan

 Waisak di Tengah Pandemi, Momen Temukan Jati Diri.

Corona virus memaksa kita berdiam di rumah, termasuk merayakan Waisak tahun ini. Namun demikian selalu ada hal positif yang diambil dari setiap peristiwa. Saat lebih banyak berdiam di rumah, kita jadi punya banyak waktu berharga untuk keluarga, dan juga untuk diri sendiri. Saat sebelum Covid-19 melanda, sebagian besar dari kita nampaknya terlalu sibuk dengan dunia luar, tapi di saat-saat seperti ini adalah momen yang tepat bagi kita untuk “melihat ke dalam”. Kita lebih banyak punya waktu untuk kontemplasi (merenung) tentang hidup dan kehidupan.

Dalam Satipatthana-Sutta, Buddha mengajarkan jalan langsung untuk pemurnian makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan ratapan, untuk lenyapnya kesakitan dan kesedihan, untuk pencapaian jalan sejati, dan untuk penembusan Nibbāna dengan 4 (empat) Landasan Perhatian. Apa sajakah itu? (1) berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani; (2) berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan; (3) berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran; dan (4) berdiam dengan merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran.

Dalam situasi yang membuat kita lebih banyak waktu untuk “me time” sekarang ini, maka ada banyak waktu untuk merenungkan Empat Landasan Perhatian tersebut dengan tekun, dengan penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian. Pepatah bijak mengatakan waktu tidak akan pernah bisa kembali, dan saat ini adalah momen yang tepat bagi kita untuk menemukan jati diri. Tak hanya itu, bagi generasi millenial saat ini adalah waktu yang berharga untuk mengenali potensi diri kalian lebih mendalam dan merencanakan masa depan.

Pencapaian kesuksesan batin tidak akan pernah lepas dari dukungan kesuksesan duniawi. Artinya, jika kebutuhan hidup duniawi masih serba kekurangan, maka untuk fokus mencapai kebebasan batin pun akan lebih sulit, ketimbang orang yang sukses. Tapi ingat, kita tidak perlu “insecure” dengan kesuksesan orang lain. Mari  kita simak bahasan berikut.

Gambar 1. Meditasi untuk ketenangan batin

Jangan Bandingkan! Setiap Orang Punya Zona Waktu Berbeda, Demikian pun Boddhisatta Menjadi Buddha

Saat usiamu udah lebih 23 tahun, mungkin kamu melihat satu persatu temanmu sudah menyebarkan undangan pernikahan mereka, beberapa diantaranya sudah punya karier yang mapan, seolah kesuksesan sudah berpihak pada mereka. Ada juga yang sedang melanjutkan kuliah di luar negeri yang bisa kamu lihat dari foto-foto di media sosial yang mereka upload.

Ada juga yang sudah punya bisnis dengan cabangnya di mana-mana, sudah punya ini dan itu yang tampak dengan mudah di dapatkannya. Sedangkan kamu merasa seolah tertinggal, belum ada apa-apanya. Kamu merasa minder, merasa sudah terlambat, dan perasaan-perasaan lainnya yang membuatmu  enggak percaya diri. Tenanglah, karena kamu tidak sedang berlomba dengan orang lain.

(Baca juga: Bisnis Online, Transaksi Online, hingga Waisak Online )

Coba kita simak waktu tempuh seorang Boddhisatta untuk mencapai penerangan sempurna menjadi seorang Sammasambuddha pun juga berbeda-beda. Kalau kalian pernah membaca Riwayat Agung Para Buddha, dalam kitab Buddhavamsa kalian akan menemukan 3 jenis Boddhisatta, Bakal Buddha.

Pertama, Pannadhika Boddhisatta dengan faktor kebijaksanaan kuat yang selalu hadir dalam setiap usaha-Nya dalam menjadi Buddha setelah memenuhi Kesempurnaan (Parami) selama empat asankhyeyya dan seratus ribu kappa.

Kedua, Saddhàdhika Boddhisatta yang meyakini bahwa mereka dapat menjadi Buddha dengan memenuhi Kesempurnaan, dan memiliki keyakinan yang lebih kuat. Dalam diri mereka keyakinan lebih kuat daripada kebijaksanaan. Oleh karena itu mereka disebut Bakal Buddha Saddhàdhika, “Bakal Buddha dengan keyakinan yang kuat.” Karena mereka tidak dituntun oleh kebijaksanaan melainkan oleh keyakinan, dalam memenuhi Kesempurnaan-Nya, mereka akan menjadi Buddha setelah delapan asankhyeyya dan seratus ribu kappa.

Ketiga, Viriyàdhika Boddhisatta yang mengandalkan sepenuhnya kepada usaha. Bagi mereka kebijaksanaan bukanlah faktor yang penting. Mereka juga tidak mementingkan keyakinan dalam memenuhi Kesempurnaan menuju Pencerahan. Menganggap bahwa usaha akan membawa mereka menuju Kebuddhaan, mereka sangat mementingkan usaha dalam memenuhi Kesempurnaan dan menjadi Buddha hanya setelah enam belas asankhyeyya dan seratus ribu kappa. Oleh karena itu mereka disebut Bakal Buddha Viriyàdhika, “Bakal Buddha dengan usaha yang kuat.”

Harus dipahami bahwa, tiga jenis Buddha Pannàdhika, Saddhàdhika, dan Viriyàdhika hanya berlaku saat menjadi Boddhisatta. Namun, begitu mereka mencapai Kebuddhaan, mereka semua sama dalam hal kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Tidak dapat disebutkan Buddha mana yang lebih mulia daripada yang lainnya dalam segala aspek.

Jadi, pesan moralnya adalah setiap orang punya zona waktunya masing-masing. Setiap orang punya jalan yang berbeda dan enggak sama. Tugasmu saat ini adalah menjadi yang terbaik menurut versimu sendiri, bukan versi orang lain. Lakukan apa yang sudah kamu mulai dan fokus dengan apa yang sudah kamu pilih. Jangan terlintas di hatimu untuk mengalahkan orang lain, itu cuma bikin kamu capek sendiri. Enggak usah mikir yang macam-macam, tenanglah semua ada waktunya.

Tapi inget, bukan berarti bersantai-santai dan nggak nglakuin apa-apa dan  kontemplasi akan sangat membantumu. Satu lagi, jangan lupa tetap physical distancing selama masa pandemi untuk memutus hubungan dengannya, eh maksudnya memutus rantai Covid-19. Happy Vesak Day, Semoga semua mahluk berbahagia.

Komentar via Facebook

Close